fbpx
Pasang iklan

Esemka, Disertasi Seks Non-Marital dan ‘The Nyinyirman’

Perlukah Menyiyir versus Memuja Esemka ?

Indonesia terbelah merespon kehadiran Esemka. Mobil buatan anak negeri akhirnya resmi meluncur menuai kontroversi dan menghuni tangga trending topik tiga hari ini. Semua karena ulah kelompok nyinyir berhadapan dengan kelompok pemuja, dengan segala jenis bacotan.

Jokowi meresmikannya sekaligus melakukan test drive, Sabtu, 7 September 2019. Ia menyempurnakan kesan yang melekat citra Esemka sebagai bentuk keberpihakannya kepada produk dalam negeri. Dan mungkin kenyataan itulah sesungguhnya yang mengundang nyinyirman untuk mengecam. Jadi, mungkin nyinyirman bukan tak senang dengan Esemka, mereka tak terima ia dibranding oleh Jokowi, atau sebaliknya.

Citra Esemka adalah Jokowi, membuat kaum nyinyiran tak bisa tidur nyenyak. Nyinyir ke Esemka sudah sampai ke taraf bau anyir, yang narasinya sudah sangat jauh dari persoalan, alias tidak nyambung.

Lalu, barisan pemuja, seperti biasa hadir bak pahlawan. Membela Esemka sebagai sebuah prestasi. Tak lupa membandingkannya dengan Toyota dan Honda dari Jepang, yang butuh 20 tahun untuk berproses menjadi mobil dunia.

Kelak, Esemka harus berhadapan dengan smartcar

Pro-kontra untuk sesuatu, peristiwa atau produk itu biasa. Hanya saja, di Indonesia itu terlihat berlebihan. Sebagai produk, teknologi transportasi, Esemka patut dibanggakan. Namun, ketika hari ini kita bicara mobil, tak secanggih 20 tahun lalu. So, berlebihan memuja Esemka bukan tidak penting, tapi ia butuh waktu untuk diuji konsumen. Ia harus masuk pasar global.  

Memang, tanggapan positif untuk Esemka ini muncul karena ia adalah realisasi gagasan pentingnya menggunakan produk dalam negeri. Produk anak negeri ini layak memberi apresiasi. Meski tak sepenuhnya merupakan produk buatan dalam negeri, namun dominan komponennya adalah hasil kreasi perusahaan Indonesia. Tapi sebagai produk, bagaimanapun prosesnya, ia tetap membutuhkan waktu untuk diuji apakah ia benar-benar mampu memenuhi ekspketasi ataukah ini hanya euphoria semata?

Tahapan uji ini penting, sebab kita tidak ingin larut dalam narasi swasembada demi untuk pembuktian nasionalisme. Sebagai sebuah entitas negara, produk dalam negeri tentu penting, tapi sebagai produk transportasi, tantangannya tidak lagi sekadar merek paten nan keren, efisiensi dan efektivitas.

Mobil masa kini bahkan tak hanya dituntut menjawab kebutuhan ramah lingkungan (misalnya mobil listrik), lebih penting dari itu adalah bahkan mobil robot yang cerdas kini  mulai dikenalkan sebagai produk yang selain ramah lingkungan juga mengurangi potensi kecelakaan.

Karena didukung oleh teknologi digital, dengan konsep digitalisasi, smartcar bahkan menjadi ancaman bagi produsen mobil konvensional. Misinya, orang-orang di masa depan tak perlu lagi memiliki mobil, karenanya tak perlu lahan parkir, dengan demikian tak perlu lagi supir dan tak lagi resah memikirkan biaya pemeliharaan. Dengan smartcar, fungsi mobil akan dikembalikan sebagai sekadar alat transportasi.

Sesederhana memahami bagaimana konsep yang dikembangkan oleh Grab dan Gojek. Hanya saja, smartcar tak perlu lagi manusia di balik setir.     

Menyinyir disertasi 

Soal nyinyir akut juga menimpa Abdul Aziz, penulis disertasi UIN Sunan Kalijaga mengenai konsep hubungan seqsual non-marital yang kontroversial itu.

Bisa dibayangkan, sebuah karya ilmiah yang telah melewati meja penguji dan memperoleh predikat ‘sangat memuaskan’ namun akhirnya diteror di facebook dan grup-grup WA, memaksa si penulis meminta maaf.

Selain soal Esemka, kasus menyinyir disertasi ini juga sudah di taraf akut. Perang di medsos melahirkan sejumlah analisa yang lebih berbunyi makian dan menghakimi. Mereka menyerang pribadi perilaku perilaku, bahwa  seks di luar nikah, yang katanya telah disahkan oleh penulis, berpeluang melegalkan perzinahan, sebuah penyakit sosial yang tak kunjung mampu diobati.

Kelompok nyinyirman jelas tak mampu memilah yang mana teks, konteks, penulis, dan pendapat penulis.

Andai mereka paham tentang konsep, terminologi, epistemology, hermeunetika, dan banyak lagi istilah ilmiah kampus, tentu serangan ke pribadi dan keluarga penulis tak akan terjadi.

Nyinyir Anies dan ujian Jokowi

Di hari peresmian pabrik Esemka, Anies di Jakarta mengampanyekan sepeda. Mungkin ini adalah nyinyir halus ke Jokowi, bahwa kendaraan yang terbaik saat ini adalah yang bebas dari polusi udara. Demi menjawab tantangan Jakarta sebagai kota dengan udara buruk terparah.  

Tapi, berharap terlalu banyak ke Anies untuk Jakarta yang lebih baik adalah kekeliruan, bagi penentangnya. Anies butuh diberi dorongan, kritik, bahkan oleh orang-orang di dekatnya. Jika ini terjadi, mungkin DKI Jakarta tak perlu mubazzir menggelontorkan uang senilai ratusan juta rupiah untuk sebuah karya seni bertajuk ‘postbamboo’ yang usianya tak lebih dari empat bulan itu. Yang akhirnya bermetamorfosis menjadi keranjang kawat berisi batu, juga dengan harga lebih mahal dari satu unit Bima Esemka.

Berharap terlalu banyak ke Jokowi juga berbahaya dan berpotensi menghadirkan fanatisme. Jokowi perlu diingatkan bahwa kasus Munir 15 tahun lalu, yang diracun di pesawat adalah kejahatan kemanusiaan yang hingga kini menghantui masa depan demokrasi Indonesia.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi tak seharusnya mengabaikan desakan untuk membuka data yang telah dihimpun oleh TPF kasus Munir demi tidak hanya menghadirkan keadilan bagi keluarga dan para aktivis HAM, tapi yang lebih utama adalah bagaimana menyudahi praktek-praktek mafia. 

Selain soal kejahatan pelanggaran HAM masa lalu, pemerintahan Jokowi juga dihadapkan persoalan pelemahan KPK oleh DPR yang secara tak terduga menyetujui revisi UU KPK dengan cara aklamasi. Untuk periodenya yang kedua, Jokowi kini tak hanya focus pada upaya pembangunan SDM, ia harus menunjukkan komitmen menyudahi luka kejahatan HAM masa lalu. Dan jika ingin negara ini lepas dari jerat koruptor, saatnya ia menunjukkan keberpihakannya kepada KPK.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)