fbpx
Pasang iklan

Dilema Transaksi Fintech

Gema.id – Kehadiran lembaga penyedia jasa keuangan berbasis teknologi (Financial technology / fintech) memang bukan hal baru bagi industri keuangan. Terlebih karena otoritas jasa keuangan (OJK) sebagai wasit industri keuangan telah mengeluarkan payung hukum bagi fintech, sehingga leluasa beroperasi di Tanah air.

Adapun payung hukum itu berbentuk peraturan OJK (PJOK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang layanan pinjaman meminjam uang berbasis teknologi informasi (Peer-to-peer lending/P2P lending) yang terbit pada penghujung desember 2016.

Belum dinaungi Ketentuan Syariah

Sayangnya, aturan main tersebut hanya mengatur pembiayaan fintech dengan sistem konvensional, dan belum mengatur sistem syariah yang saat ini juga sudah mulai berkembang.

Direktur pengaturan, perizinan, dan pengawasan fintech OJK Hendrikus Passagi menjelaskan, aturan fintech yang ada saat ini memang berlaku secara umum atau mengatur sistem konvensional.

Kendati demikian, menurut dia, aturan tersebut juga dapat digunakan untuk mengatur fintech pembiayaan berbasis syariah.

“yang salah itu adalah ketika kami mengeluarkan kebijakan syariah, tapi ternyata dijalankan secara konvensional”.

ungkap Hendrikus Passagi

DSN-MUI sebagai otoritas fatwa harus melakukan antisipasi dengan ketentuan syariah yang tepat dan benar dengan mengkaji mendalam praktek yang terjadi karena tanpa memahami prakteknya, dapat saja fatwa nya tidak tepat meskipun dalilnya benar.

Terlepas dari ada atau tidaknya aturan main khusus bagi fintech syariah dari OJK, keharusan memliki DSN disetiap perusahaan serta adanya fatwa yang dikeluarkan MUI perlu adanya.

Namun, ketentuan ini dianggap sebagai tambahan yang memberatkan karena akan mengeluarkan biaya yang besar padahal fintech syariah sebagai pemula dengan modal yang sangat terbatas. Sementara startup pada umumnya belum memiliki modal besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Upaya pemerintah dalam meningkatkan startup – startup yang ada saat ini termasuk fintech sangat memberikan sumbangsih besar dengan menguatnya literasi keuangan pada pemerintah. Serta adanya manfaat kemudahan bagi nasabah dalam melakukan transaksi.

Lebih lanjut ungkapan Maaruf amin, dirinya menjelaskan Allah menginginkan kemudahan. Maka selama membawa kemaslahatan bagi umat dan yakni berpotensi besar bagi keuangan syariah, maka fintech diperbolehkan. “Jadi tinggal cermati,” katanya.

Dilema Penggunaan Jasa Fintech dalam Bertransaksi

Kehadiran Fintech tentu merupakan kabar baik bagi upaya pemerintah memperluas akses keuangan masyarakat. Kendati tentunya perlu diatur secara ketat.

Bagaimana pun, industri keuangan adalah bidang yang sensitif dan mengedepankan kepercayaan. Sekali nasabah dikecewakan, tentu akan menurunkan kredibilitas institusi itu sendiri. Dampaknya, bukan hanya institusi tetap dikhawatirkan juga terhadap industri keuangan secara umum.

Baca juga: Tips Memilih Perusahaan Fintech yang Aman

Oleh sebab itu, terdapat sejumlah hal yang perlu diberi perhatian lebih oleh pemerintah dan OJK. Mulai dari munculnya pemain-pemain baru di industri keuangan berbasis aplikasi, harus diimbangi dengan peningkatan sistem keamanan. Muaranya tentu saja agar kenyamanan nasabah sebagai pengguna terjaga.

Selain itu, perlunya diskusi kelompok sebelum OJK membuat regulasi tambahan yaitu dengan membentuk tim khusus fintech, supaya perusahaan tidak salah memberikan aturan dengan berbagai macam produk yang dihasilkan terkhusus untuk layanan keuangan dan perlindungan konsumennya.

Fakta membuktikan, biasanya perusahaan fintech menyalin semua kontak HP yang dapat digunakan untuk intimidasi pada saat penagihan.

Jelas ini sangat merugikan nasabah secara psikologis karena merasa mendapatkan sanksi sosial dan bisa saja mereka dikucilkan oleh beberapa masyarakat disekitarnya karena tidak membayar tagihan. Mesti ada cara lain mengatasi masalah penagihan.

Lebih jelasnya perusahaan fintech misalnya yang bergerak dibidang UMKM perlunya memikirkan solusi lain pada sistem penagihan yang tepat waktu, baiknya ada sedikit kelonggaran dalam mengatasinya karena setiap usaha yang dijalakan sifatnya fluktuatif, tidak ada jaminan kedepan jika nasabah tiba-tiba tidak memliki uang pada saat tiba waktu pembayaran.

Hal ini sering terjadi dikalangan masyarakat yang merasa berat dengan aturan seperti ini, perlu aturan lain pada layanan financial terutama bagi fintech yang masih terbilang sebagai pemula.

Kemunculan Jasa Fintech Berbasis Syariah

Terlebih lagi kemunculan fintech yang secara resmi beroperasi secara syariah, yaitu PT Investree Radhika Jaya, melalui Investree syariah. Investree berinovasi mengenalkan hawalah fintech ( akad pemindahan utang) kepada pengguna dan selanjutnya akad ijrah fintech (akad sewa) dan mudharabah Fintech (akad kemitraan).

Meskipun sudah beroperasi secara syariah perlu penguatan kembali karena tahun sebelumnya fokus atau skema yang dijalankan yaitu P2P lending yang masih berbasis konvensional.

Kami memandang sangat perlu regulasi sehingga ada kepastian hukum, Selain itu juga aturan permodalan dan kualifikasi manajemen penyelenggara fintech sangatlah penting.

Fintech juga digadang-gadangkan akan menjadi calon pengganti kuat dari system perbankan. Hal ini membuktiikan Potensi pertumbuhan fintech syariah sangat besar karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak. Kita juga merupakan jumlah pengguna internet yang sangat terbesar.

Adanya perilaku masyarakat yang semakin gemar melakukan transaksi digital seperti ini perlu tindakan dari pemerintah khusunya OJK agar membatasi perumbuhan fintech yang bisa merugikan perbankan. Namun beberapa anggapan fintech bukanlah ancaman, tapi bisa menjadi peluang bagi perbankan meningkatkan pertumbuhan bisnisnya dan memperluas panetrasi pasar keuangan.

(Penulis Opini)

Nama: Asriana (Mahasiswa Pascasarjana UIN) Alauddin MakassarAlamat: Jl. Rambutan Kec. Tanete Riattang Barat Kab. Bone Prov. SulSel
No. Hp: 085397724294
E-mail: asriana.ana21@gmail.com

(Isi dan konten opini merupakan tanggungjawab penulis).

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)