fbpx
Pasang iklan

Conte dan Sarri dalam Pusara Inter vs Juventus, Bak Cerita Urban Lagenda Yunani

...

“Jika Brasil adalah tanah kelahiran para penari Samba maka Italia adalah tanah air para Gladiator. Jika pemain bola Brasil memainkan bola bagaikan penari yang lupa diri maka pemain bola Italia bermain bola bagaikan prajurit Spartan yang berani mati,”

Cerita urban lagenda Yunani yang tertuang dalam film “300” tentang King Leonidas yang memimpin 300 pasukan terbaiknya menuju tebing Hot Gates atau gerbang neraka yang menjadi saksi bisu pertempuran epik King Leonidas beserta 300 pasukan elite sparta yang membantai berbagai pasukan elit Xerxes yang tidak lain adalah Kaisar Persia yang menginginkan daerah sparta tunduk dan takluk di bawah kekuasaan imparium Persia.

Imparium Persia merupakan kekaisaran terkuat pada masa silam, seperti halnya Juventus kini yang notabanenya kesebelasan klub yang mendominasi Liga Italia dalam beberapa tahun belakang.

Pekan ini pasukan Maurizio Sarri akan menginvasi daerah kekuasaan Antonio Conte yang sejatinya salah satu raja di kota Milan, Inter Milan yang baru sajak dilantik menggantikan raja yang sebelumnya turun tahta yang gagal mengembalikan kejayaan kota Milan. Conte yang menolak tunduk dan takluk kepada Sarri yang notabane nya Kaisar Imparium Turin bernama Juventus akan memimpin ‘sebelas’ pasukan terbaiknya untuk menghadapi pasukan elit Kaisar Sarri di distrik bertempat Stadion Giuseppe Meazza, Senin, (07/10/2019) dini hari nanti.

Seperti halnya Juventus di bawah rezim Sarri yang tak bisa lepas dari penguasan bola dikenal dengtan permutasi ‘Sarriball’, demikian pula Conte, tidak bisa lepas dari mental petarung Gladiator. Mental Gladiator tidak lain dan tidak bukan, adalah mental mempertahankan diri atau bertahan dengan berbagai cara dari berbagai gempuran lawan dan sesekali menyerang lawan sebagai hewan buas, kendati resikonya adalah terluka berimbas kematian.

Antonio Conte hanyalah seorang resultaattrainer (pelatih yang mengerahkan diri hanya pada hasil akhir) dan merupakan anak kandung yang sah kebudayaan sepakbola Italia yang tak pernah sungkan menerapkan taktik bertahannya: Catenaccio.

Sedangkan Maurizio Sarri hanyalah seorang bangkir yang sangat mengagumi penguasaan bola.  Saking cintanya, Sarri malah menciptakan sistem dan taktik dengan gayanya sendiri yang acap kali disebut Sarriball yang tak lain dan tak bukan sedikit banyaknya terpengaruh Totalfootball  yang diperagakan era Johan Cruyff yang mendewakan penguasaan bola di sepanjang gelanggang pertandingan.

Meskipun lahir dengan rahim Italia yang sama, Conte dan Sarri punya kepribadian berbeda. Conte yang hanya mementingkan hasil akhir dan mengindahkan pertahanan berbanding terbalik dengan Sarri yang begitu mendewakan penguasaan bola dan meng-amini sepakbola indah. Lihat saja wajah pasukan Chelsea kala silih berganti ditunggangi Conte dan Sarri.

Adu taktik kedua pelatih yang mendewakan sistemnya masing-masing sangat sukar untuk dihindarkan. Seperti halnya film 300, King Loenidas otak di balik taktik pertahanan, defence yang secara heroik membantai pasukan Xerxes. Leonidas sedikit diuntungkan di pertarungan ini yang begitu mengenal medan Hot Gates yang membuat Kaisar Xerxes murka.

Kaisar Xerxer yang tak kehabisan akal menginstruksikan kepada panglimanya untuk mengirim pasukan terbaiknya dari berbagai daerah jajahannya untuk memenggal kepala Loenidas. Pertempuran di gerbang neraka, King Leonidas begitu menikmatinya, tombak dan pedangnya begitu mudah menghujam di tubuh musuhnya.

Antonio Conte akan di uji pasukan terbaik Sarri yang akan disiapkan di gelanggang Giuseppe Meazza, tentunya Sarri akan menurunkan pasukan terbaiknya demi membongkar pertahanan solid kesebelasan Inter yang di pimpin Conte. Jika Xerses mengerahkan pesukan terbaiknya untuk memenggal kepala Leonidas, Sarri memimpin pasukannya untuk mencuri tiga poin dari tanah Milan yang menginginkan tahta klasemen Serie A . 

Seperti halnya Leonidas yang diuntungkan di pertarungan Hot Gates, pertarungan kali ini sedikit banyaknya menguntungkan pasukan Antonio Conte di Giuseppe Meazza. Seperti halnya Xerse yang frustasi sehingga menurunkan pasukan terbaiknya dari berbagai daerah (Asia,Eropa,dan Arab).

Mungkin jikalau Sarri sedikit frustasi membongkar pertahanan Inter, tak ada salahnya mengikuti langkah Xerxes yang menerjunkan pasukan terbaiknya. Sarri punya stok pasukan hebat di belakangnya yang siap memberi ’sersahan’ pahit kesebelasan Inter Milan.

Meskipun Leonidas bersama 300 pasukan terbaiknya tampil trangginas melawan pasukan Xerxes, toh pada akhirnya pertahanan solid pasukan sparta jebol juga. Di bawah guyuran hujan panah api dibarengi serangan pasukan berkuda Kelaveriyang menggilas pertahanan pasukan sparta, Leonidas beserta 300 pasukannya gugur dan taklut akibat panah yang menghujam tubuhnya.

Tentunya Conte tak ingin bernasib seperti Leonidas yang gugur di bawah pasukan Xerxes, meskipun leonidas gugur secara kesatria dan terhormat, bagi Conte kekalahan tetaplah hal memalukan dan tak ada waktu untuk memikirkan kekalahan. 

Bagi Antonio Conte taktik itu fana, kemenangan itu abadi, sementara lain bagi Sarri, semua-muanya harus taktis!

Beri tanggapan