fbpx
Pasang iklan

‘Coding’ dan Resolusi Pemuda

Gema – Hari ini, sembilan puluh tahun silam, pemuda berkumpul di gedung IC, Kramat, Jakarta. Mereka adalah pelajar bumi putera, yang hadir dan berkumpul untuk sebuah tekad menyatukan visi, cita-cita yang jauh melampaui era dimana mereka hidup. Mereka mewakili daerah-daerah yang saat itu masih berbentuk kerajaan, yang masih dikuasai oleh Hindia Belanda, lalu tergerak untuk bersatu sebagai bangsa yang terjajah. Mereka sepakat membuang ego daerah, demi sebuah visi mewujudkan sebuah bangsa besar.

Mimpi mereka adalah tentang berdirinya sebuah negara, pemerintahan yang dikelola oleh bangsa sendiri, dan sebuah wilayah yang memiliki latar belakang geografi dan demografi beragam. Mereka lantang meneriakkan Indonesia, di saat pemerintahan kolonial Belanda masih mencengkram tanah air.

Hari ini, kurang sedekade menuju seabad ikrar Sumpah Pemuda, kita memasuki era revolusi industri 4.0. Pemuda hari ini tak lagi berhadapan dengan musuh-musuh  yang mengokang senjata.  Tak ada perang gerilya. Musuh kita bukan lagi yang berhidung besar dan berkuli merah. 

Hari ini, pemuda berhadapan dengan robot-robot artificial intelligence (AI). Tak ada cara lain untuk menghadapinya kecuali menguasai teknologi mutkahir berbasis data internet. Perusahaan berskala internasional tanpa kesulitan merekrut karyawan berbakat dan bertalenta lintas negara. AI hanya bisa dihadapi dengan AI, tak ada jalan lain ke Roma.

Lalu, bagaimana kondisi ‘melek’ coding pemuda saat ini?

Berdasarkan penelitian ABB dan The Economic Intelligence Unit, yang mengambil data 25 negara, tentang kesiapan mereka menghadapi era AI, hasilnya memang sudah bisa diprediksi. Korea Selatan menjadi negara yang berada di predikat teratas sebagai negara yang paling siap menghadapi era revolusi 4.0. Kesiapan mereka sudah ditunjukkan dengan memberikan pelajaran coding sejaka sekolah dasar, seperti yang dilakukan oleh Finlandia.

Sayangnya, Indonesia berada di urutan paling buncit di antara 25 negara yang disurvei itu. Padahal, pengguna media sosial (Facebook dan Instagram) Indonesia masuk dalam lima besar dengan jumlah pengguna mencapai angka 140 juta untuk facebook, hanya kalah dari India dan Amerika. Sementara, di Instagram, sekitar 56 juta, di bawah Amerika, Brazil dan India.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas internet kita tergolong besar. Internet sudah sangat populer di Indonesia. Namun, sedihnya, kecakapan menggunakan teknologi ini tidak diikuti dengan kemampuan membaca data, mengaplikasikan rumusan coding.     

Kita terlalu bising di dunia maya dengan status-status di  Facebook dan Instagram. Apalagi, dalam setiap kontestasi politik, para buzzer bahkan masih menjadi komoditi yang laris. Tugas para buzzer ini punya dua tugas: “menyerang dan bertahan dengan cara apapun”. Hasilnya: setiap saat kita dicekoki dengan informasi hoax dan ujaran kebencian dan fitnah.

Coding dan Data: Resolusi Pemuda kini

Soekarno mempopulerkan sebuah kalimat yang hingga kini masih sering dikutip untuk membakar semangat pemuda, “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia…” Orasi Soekarno ini sebenarnya menunjukkan visi yang besar mewujudkan negara kuat. Bahkan, Bung Karno, tak hanya membakar semangat pemuda, namun ia juga menyerang “Amerika kita setrika dan Inggris kita linggis…”

Kini, satu orang pemuda dengan gadget di tangan, bisa mewujudkan sebuah mimpi untuk mendirikan sebuah korporasi bisnis yang mampu menyediakan jutaan peluang kerja lewat Go-jek, atau memfasilitasi interaksi jual beli melalui aplikasi Tokopedia dan Bukalapak.

Jadi, membakar semangat pemuda hari ini tentu tidak lagi berisi narasi tentang bagaimana menentang ekspansi imprealisme. Karena, esok tak ada lagi perang fisik. Sejak Perang Dunia Kedua yang meninggalkan luka kemanusiaan yang tragis, kecuali beberapa negara di Timur Tengah. Skema hubungan antar negara di dunia sudah berubah. Kini, definisi negara maju-berkembang-terbelakang sudah mulai ditinggalkan. Negara-negara terhubung oleh skema saling-tergantung (interdependent).  

Resolusi pemuda hari ini adalah bagaimana mereka mampu mengoptimalkan potensi dan kreativitas. Pemuda hari ini, mutlak melek teknologi. Mereka mutlak memahami bagaimana mengoperasikan komputer, lebih spesifik, adalah bagaimana mampu membaca coding. Begitulah dunia kini saling terhubung. Data dan ‘coding’ adalah dua hal yang saling terkait, yang harus dikuasai oleh pemuda kini. Tanpa data, pemuda akan mudah terserang virus hoax. Tanpa kemampuan membaca dan merumuskan coding, pemuda akan kalah bersaing dengan robot-robot AI.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)