20 Maret 2020

Cina Berhasil Tekan Pandemi Corona hingga ke Angka Nol Kasus

Prakiraan durasi baca: menit - Panjang artikel kata.

Gema.id – Provinsi Cina di pusat wabah Coivd-19 melaporkan tidak ada infeksi baru untuk pertama kalinya sejak patogen itu muncul lebih dari dua bulan lalu, menandai titik balik dalam pandemi yang menginfeksi 81.000 warga China dan ancaman terbesarnya tentu dalam ranah ekonomi sedekade ini.

Tonggak sejarah bagi provinsi Hubei datang ketika Cina berjuang untuk bangkit kembali setelah diratakan oleh penyakit yang meledak keluar dari kota Wuhan pada akhir Januari lalu. Hal ini menyerang semua sendi-sendi kehidupan negara tersebut yang menimbulkan kekacauan sosial dan ekonomi yang sangat besar, terutama di provinsi Hubei yang berpenduduk 60 juta jiwa, yang masih berada di bawah karantina massal.

Virus yang penyebarannya begiu cepat menjangkit hampir seluruh dunia dan orang-orang Cina yang melanjutkan kegiatan sosial mereka, tak menutup kemungkian gelombang kedua infeksi akan datang, kata para ahli mengingat betapa penularan virus tersebut dengan mudahnya melewati perbatasan negara.

Memang, bahkan ketika angka kasus di Hubei terus berkurang hingga ke angka nol, Cina menghadapi kekhawatiran yang lain karena kasus impor terus bertambah di negara itu. Komisi Kesehatan Nasional Cina melaporkan 34 kasus baru untuk 18 Maret, semuanya pasien yang membawa penyakit dari negara lain.

“Cina harus mewaspadai kasus-kasus “sangat menular” di antara para pelancong yang memasuki Tiongkok dari negera lain, terlebih pada awalnya mereka tidak menunjukkan gejala,” kata pakar penyakit menular China, Zhong Nanshan, dalam konfersi pers, Rabu (18/3/2020) kemarin.

Secara global, virus corona telah menyebabkan 211.000 lebih kasus dan membunuh 8.700 jiwa. Wabah telah meluas di seluruh dunia, selain Cina, Italia dan Iran menjadi negara terparah yang terpapar. Kini seluruh perbatasan ditutupi, membatalkan sekolah dan menutup restoran. Festival musik dan acara olahraga dunia telah ditunda dan banyak pula perjalanan tertunda akibatnya. Bagaimana dengan ekonomi global, semenjak corona, menyapu sebanyak 2,7 triliun dolar dari produk domestik bruto.     

Ketika kasus-kasus baru yang terdeteksi turun ke angka nol, pada hari Kamis (20/3) dari puncaknya 15.000 kasus pada sebulan lalu, Hubei juga kini mengangkat karantina massal yang telah dilakukan ada sejak 23 Januari lalu, hal ini memungkinkan lagi beberapa warga di daerah beresiko rendah untuk meninggalkan provinsi untuk bekerja. Menurut laporan media lokal, orang-orang harus mendapatkan sertifikasi “kode hijau” yang membuktikan bahwa mereka dalam keadaan sehat untuk pergi.

Karantina massal Hubei, yang meliputi Wuhan dan kota-kota sekitarnya, bertujuan menyegel tempat virus itu pertama kalinya muncul dari bagian negara lain. Tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan langakah radikal ini sekarang direplikasi oleh beberapa negara yang telah tertular.

Sementara para peneliti mengatakan bahwa penguncian Wuhan kemungkinan mengurangi transmisi virus di luar negeri hingga hampir 80 persen, itu menyebabkan penderitaan luar biasa di dalam Hubei: sistem  medis lokal runtuh di bawah beban lonjakan infeksi, yang mengarah ke sejumlah kematian yang dapat dicegah, keduanya virus – terkait dan tidak. Skenario muncul di negara-negara lain seperti Italia dan Iran sekarang karena infrastruktur medis mereka menjadi kewalahan menghadapi pendemi.

Cina akhirnya mengirim ribuan dokter dari seluruh negara ke provinsi Hubei untuk membantu dan rumah sakit baru dibangun dalam beberapa hari untuk menampung puluhan ribu pasien yang terinfeksi. Di luar Hubei di seluruh Cina pejabat setempat memberlakukan berbagai pembatasan pada pergerakan penduduk dan menggunakan kekuatan pengawasan luas untuk melacak siapa yang terinfeksi melakukan kontak.

Ekonomi telah terpukul oleh wabah dan langkah-langkah penahanan agresif dilakukan. Perusahaan yang bermasalah seperti HNH Group Co telah meminta menyelamatkan negara sementara Cina meloggarkan aturan pembiayaan secara bebas untuk menjaga jutaan bisnis kecilnya agar tetap hidup melaui krisis.

Sekarang resume kerja bergulir dan pembatasn kerja dicabut, kemungkinan infeksi lain tinggi, karena mayoritas populasi Cina masih tidak kebal karena mereka tidak terinfeksi pada gelombang pertama, kata Raina MacIntyre, kepala biosecurity program di Universitas New South Wales di Sydney.

“Bahkan jika ada lebih dari seribu kali lebih banyak kasus di Cina daripada dilaporkan, kurang dari 1 persen dari seluruh populasi terinfeksi, membuat sebagian besar orang Cina masih rentan,” ungkap MacIntyre.    

Penaut:
Back to Top