fbpx
Pasang iklan

Calon Walikota Makassar Bisa Apa?

Kotak kosong menang dalam Pilkada Kota Makassar tahun lalu, sebuah kejutan yang berbuah PILWALKOT Makassar 2020. Ketika sepasang calon –Appi-Cicu- yang merupakan keluarga dari salah satu grup bisnis paling berpengaruh, plus menahkodai klub sepak bola legendaris, PSM, kenyataannya tak mampu meraih dukungan maksimal. Orang-orang lebih banyak memilih kotak kosong.

Apakah ini bermakna kekalahan uang, jaringan bisnis, klan, atau murni lemahnya pergerakan tim dan strategi kampanye yang tak efektif? Tak ada yang pasti atau bisa saja semua daftar itu adalah akumulasi. Ini bisa jadi topik menarik untuk riset, terkait perilaku pemilih warga kota.  

Memang, kemenangan kotak kosong tidak menunjukkan kalau pemilih Makassar bisa disebut rasional. Bahkan mungkin Kekalahan Appi-Cicu, menunjukkan indikasi kuat bahwa warga Makassar memang menyukai calon yang tidak ada dalam daftar yang harus dipilih. Entah masih berharap pada Dani Pamanto atau belum bisa move on dari sosok Daeng Aco, Ilham Arief Sirajuddin.      

PILWALKOT Makassar 2020

Tahun depan, Pilwali akan kembali digelar. Beberapa orang sudah mulai memasang gambar diri di lini masa media social. Tapi calon-calon itu nyaris hanya bermodal tampang. Mereka hadir tanpa dukungan gagasan besar, tentang bagaimana menata dan kemana kota akan dibawa.

Padahal, gagasan besar itu tak harus ditemukan di lembaran-lembaran arsip kuno. Mereka tak perlu menuntaskan membaca bagaimana peradaban-peradaban yang runtuh dalam Collapse, buku hasil riset Jared Diamond yang tebalnya lebih 700 halaman itu. Gagasan besar tak harus menghabiskan uang kas negara untuk mengunjungi Roma yang religious atau negeri Belanda yang adem meski kota mereka secara topografi lebih rendah di bawah permukaan air laut, tapi tak menderita karena banjir.

Di kota baru kita banyak kehilangan

Mereka yang berpikir bisa memimpin kota yang sudah lama meninggalkan ciri khasnya sebagai kota maritim, hanya perlu meluangkan waktu, merenung, mengapa kota ini begitu menderita dengan kemacetan dan tak pernah benar-benar bisa melepaskan diri dari ancaman banjir?

Apakah soal Makassar hanya tentang banjir dan macet ?, Mungkin tidak sesederhana itu

Makassar Kota Dunia, Katanya

Mungkin baru decade ini, puncak macet benar-benar menjadi sorotan. Nyaris tak ada lagi jam sibuk, untuk melintasi ruas Pettarani, Alauddin, Hertasning, Urip Sumohardjo, Abdullah Daeng Sirua, dan lebih banyak lagi.

Meski sebenarnya macet hanya gejala lain dari sebuah kesalahan prinsipil dalam penataan kota. Tak ada visi kuat dalam penataan kawasan. Kita bisa mulai dari sunset Pantai Losari yang sudah direbut oleh pengembang. Kawasan Hertasning Baru kini berubah total menjadi pemukiman elit, melenyapkan rawa dan sawah.

Ruko-ruko dibangun begitu saja menyasar hingga ke pemukiman-pemukiman warga. Beberapa hotel berdiri tanpa lahan parkir yang cukup dan dukungan system saluran pembuangan limbah yang memadai. Bahkan ada hotel yang seakan berkamuflase melebur di dalam mall.

Tak ada konsistensi dalam rancangan tata ruang kota. Kita tidak hanya kehilangan warisan kota tua yang kosmopolit. Bahkan untuk kota baru, kita harus kehilangan banyak hal: ruang yang lapang dan keteduhan kota.     

Jejak kota lama, kota dunia yang kosmpolit

Mengatasi banjir dan macet memang tak seketika mengembalikan kejayaan Makassar di abad ke-17 hingga awal abad ke-20. Saat itu, Makassar benar-benar tampil sebagai kota dunia.

Jejak kota Makassar yang kosmopolitan dengan segala fasilitasnya masih bisa ditelusuri di decade-dekade awal abad ke-20. Orang-orang dari benua lain datang, berbisnis, memasang iklan, dan mendirikan toko.

Saat itu, Di Pasarstraat (sekarang jalan Nusantara) sudah berdiri tiga toko pakaian besar, “Hotchand Kemchand”, “Bombay Moerah” dan “Liberty.” Di Tempelstraat (sekarang jalan Sulawesi), bediri toko pakaian berbahasa Prancis “Au Bon Marche.” Untuk kebutuhan peternakan, misalnya ada boerderij “Frisia” di Goaweg (Stadion Mattoanging), menyediakan susu sapi segar dari Australia dan Belanda, juga yoghurt dari Bulgaria. Kalau itu belum cukup, mobil-mobil terbaru, Sedan Fiat Italia, Dodge Amerika atau yang paling mewah Dodge Six De Luxe dengan tujuh tempat duduk, bahkan sudah terpajang dan bisa dipesan langsung (Dias Pradadimara, 2005).

Kota yang tumbuh di sekitar kawasan Benteng Rotterdam ini pernah memiliki 9 konsulat yang mewakili negara-negara Denmark, Swedia, Norwegia, Inggris, Prancis, Jerman Belgia, Portugal dan Cina (Dias Pradadimara, 2005). Jadi bukan hal baru, dan tak berlebihan jika kini Makassar punya visi Kota Dunia. Visi yang kini mungkin hanya terselip dalam memori di setiap sudut kota.    

Bisa saja, ada suara apriori yang bernada sinis, bahwa kejayaan itu hanyalah warisan kolonial Belanda. Kenyataannya, Makassar sudah berinterksi dengan dunia sejak abad ke-17. Anthony Reid menulis Makassar sebagai kota yang prestisius dan jadi tujuan, kala Somba Opu masih menjadi bandar pelabuhan paling sibuk di Nusantara. Dan kita punya Karaeng Pattingalloang perdana menteri dan penasehat Sultan Muhamma Said (1639-1653), merupakan masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, ia dikenal dunia sebagai seorang yang begitu mencintai sains dan mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.

### Kita mewarisi kota kosmopolit, dihuni oleh warga dari berbagai etnis dan bangsa. Sebuah kota yang pernah menjadi lalulintas perdagangan dunia. Kini, kita bertanya, di millennium kedua ini, calon-calon walikota itu bisa apa?

Makassar 2020 ~ Subarman Salim

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)