fbpx
Pasang iklan

Bukan Anggota WHO, Pelajaran Penting dalam Penanganan COVID-19 dari Taiwan

...

Gema.Id – Beberapa hari belakangan, banyak teman yang bertanya kepada saya tentang bagaimana kondisi saya di Taiwan. Sebelumnya, pernah juga ada yang bertanya mengapa pada bulan Januari hingga Februari lalu saya masih bisa dengan tenangnya jalan-jalan selama liburan musim dingin padahal kasus COVID-19 saat itu sedang tinggi-tingginya di Cina. Sebagai informasi, Taiwan terletak hanya 180 km dari lepas pantai daratan Cina.

Negara yang termasuk dalam kawasan Asia Timur ini diprediksi akan menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di luar Cina karena kedekatan wilayah dan banyaknya jumlah penerbangan dari dan ke Cina. Namun nyatanya, prediksi tersebut tidak terjadi. Bahkan kini, Taiwan menjadi salah satu negara yang kehidupan masyarakatnya berjalan relatif normal dan mendapatkan predikat sebagai salah satu negara terbaik dalam menangani pandemi COVID-19.

Belajar dari pengalaman di masa lalu

Kenyamanan dan keamanan yang dirasakan oleh masyarakat Taiwan saat ini bukanlah hasil dari upaya membangun seribu candi dalam satu malam. Pemerintah dan masyarakat Taiwan telah belajar dari pengalaman wabah SARS pada tahun 2003 untuk mengembangkan sebuah sistem dalam mengantisipasi kejadian wabah penyakit menular berikutnya. Mereka menyadari bahwa waspada lebih baik daripada menyesal di kemudian hari. Mereka memahami bahwa ancaman pandemi dari virus yang mematikan—yang telah diprediksi oleh beberapa pakar dan ilmuwan termasuk Bill Gates—adalah ancaman nyata.

Wakil Presiden Taiwan, Mr. Chen Chien-jen, menjadi salah satu sosok kunci dalam upaya Taiwan membangun ketahanan nasional terutama di bidang kesehatan. Ia bukanlah sosok yang berasal dari kalangan politik atau mewakili organisasi masyarakat tertentu, melainkan seorang ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Pada saat wabah SARS melanda, Mr. Chen menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan berhasil mengendalikan krisis dalam waktu yang singkat.

Antisipasi lebih awal

Sebelum negara lain memulainya, Pemerintah Taiwan sudah memberlakukan pemeriksaan kesehatan pada penumpang penerbangan langsung dari Wuhan, Cina, sejak tanggal 31 Desember 2019. Saat itu, otoritas Cina dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) baru sekedar merilis adanya kasus pneumonia yang belum diketahui penyebabnya dan diduga penularan sebatas dari hewan ke manusia.

Pada tanggal 2 Januari 2020, saya berkesempatan untuk mendapatkan kuliah dari seorang petinggi di Pusat Pengendalian Penyakit Menular Taiwan (Taiwan CDC). Ia mengatakan bahwa Pemerintah Taiwan terus memantau perkembangan kasus ini, mencoba menjalin komunikasi dengan Pemerintah Cina dan WHO, serta mengambil langkah-langkah kewaspadaan dini. Saat itu, berita mengenai COVID-19 belum menjadi headline di negara manapun.

Upaya pemerintah Taiwan kemudian diperluas dengan melakukan screening pada setiap individu yang memiliki riwayat perjalanan dari Wuhan selama 14 hari ke belakang. Mereka yang kedapatan memiliki gejala demam dan batuk dikarantina di rumah dan diperiksa apakah memerlukan perawatan medis.

Ketika kasus menyebar secara luas di Cina daratan, Taiwan CDC mengaktifkan Pusat Komando Epidemi Terpadu (Taiwan CECC) yang merupakan badan koordinasi dari beberapa kementerian yang dikomandoi oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan. Taiwan CECC inilah yang kemudian menjadi “jagoan” dalam upaya melawan wabah COVID-19.

Pemerintah Taiwan juga sempat menunda jadwal masuk sekolah dan perguruan tinggi selama satu bulan lamanya sejak liburan musim dingin berakhir. Setiap institusi pendidikan juga diminta untuk menerapkan langkah-langkah preventif seperti mengimbau penggunaan masker, memeriksa suhu tubuh, mengganti kelas besar menjadi kelas jarak jauh, serta melarang sivitas akademikanya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Kampus di mana saya sedang berkuliah saat ini, Taipei Medical University, mendorong mahasiswanya untuk melaporkan suhu tubuh harian, berkunjung kemana saja selama 14 hari terakhir dan apakah menghadiri acara yang berisikan lima orang atau lebih melalui sebuah aplikasi.

Kelangkaan dan melambung tingginya harga masker seperti yang dialami oleh banyak negara, tidak terjadi di Taiwan. Sejak awal, pemerintah Taiwan telah mengukur dan mengalokasikan sumber daya kesehatan mereka dengan baik.

Setiap pembeli masker harus menunjukkan kartu asuransi kesehatan nasional (NHI) untuk mendapatkan 10 buah masker dengan harga sekitar Rp 25.000,- (1 NTD = 500+ IDR). Kartu tersebut dipindai dan kita baru boleh membeli kembali masker setelah dua pekan kemudian. Pemandangan antrian panjang dan tertib pembelian masker menjelang jam 9 pagi, 2 siang dan 8 malam menjadi hal yang lumrah di setiap apotik. Kabar baiknya, mesin penjual masker otomatis baru-baru ini diluncurkan di beberapa tempat strategis. Pemerintah Taiwan juga memberikan teladan kepada masyarakat dengan menggunakan masker berwarna pink. Mereka hendak menunjukkan bahwa masker adalah alat pelindung terlepas dari apapun warnanya.

Bukan merupakan negara anggota WHO

Taiwan merupakan sebuah negara yang mampu dan dapat diandalkan yang dapat menolong terwujudnya kesehatan yang lebih baik bagi semua. Langkah terukur yang dilakukan oleh pemerintah disertai dengan nalar kewaspadaan yang dimiliki masyarakatnya serta penggunaan teknologi dan sistem pelayanan kesehatan yang baik menjadi kekuatan tersendiri bagi Taiwan. Namun terlepas dari itu semua, rupanya Taiwan bukanlah negara anggota WHO. Taiwan mempunyai hubungan yang rumit dengan Cina akibat perbedaan ideologi yang dimiliki oleh kedua negara.

Penyebaran virus tidak mengenal batas wilayah. Kolaborasi antar negara sangat diperlukan dalam kondisi krisis seperti saat ini. Dengan semboyannya: “Taiwan can help, and Taiwan is helping”, Pemerintah Taiwan saat ini secara aktif mengirimkan bantuan penyediaan masker dan peralatan medis ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Referensi:

Chiu, Y. W. & Weng, Y. H. (2020). Global health security: Choice or chance? Taiwan experience for COVID-19. Prospects & Perspectives.

Profil Wakil Presiden Taiwan (https://english.president.gov.tw/Page/41)

Wang, C. J., Ng, C. Y., & Brook, R. H. (2020). Response to COVID-19 in Taiwan: Big data analytics, new technology, and proactive testing. JAMA.

12 pemikiran pada “Bukan Anggota WHO, Pelajaran Penting dalam Penanganan COVID-19 dari Taiwan”

  1. Ternyata seorang pemimpin/presiden yg piawai dan serius dalam menangani masalah memberikan perbedaan dan hasil positif bagi rakyatnya..
    Tulisan ringan dan menarik untuk di simak, kereen..

    Balas
  2. Ternyata kuncinya ada tokoh wakilpesiden yg konsen sekali dimasalah kesehatan terutama bagaimana sistem pertahanan kesehatank dilakukan dr awal sehingga tdk kecolongan. Semoga kita bs belajar seperti negara Taiwan *big hope 🙏🙏

    Balas

Beri tanggapan