fbpx
Pasang iklan

Bos PLN Diperiksa oleh KPK terkait Suap Proyek PLTU Riau-I

...

(Gema – Riau) Sofyan Basir selaku Direktur Utama (Dirut) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memenuhi panggilan untuk diperiksa sebagai saksi. Pemanggilannya terkait dugaan adanya suap pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-I oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini sebagaimana yang tersampaikan dalam keterangan tertulis yang berbunyi  “Akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo.” oleh Juru bicara KPK, Febri Diansyah pada Jumat (20/7/2018) lalu.

Kemudian Sofyan yang menghadiri pemeriksaan KPK mengatakan bahwa ia tidak mengetahui perihal adanya pertemuan kedua tersangka (Eni dan Johannes).

“Saya tidak tahu,” imbuhya dengan singkat, sebagaimana yang dikutip di tempo.co, Minggu (22/7/2018).

Kemudian Febri berpendapat bahwa campur tangan PLN pada rancangan kerjasama pada proyek PLTU Riau-I akan diusut lebih dalam oleh KPK. Sementara itu Sofyan tiba untuk pemeriksaan di Gedung KPK sekitar pukul 10.00 WIB.

Ditetapkannya Eni Sarangih yang merupakan wakil komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai tersangka kasus suap proyek PLTU ini juga memunculkan nama dari Dirut PT PLN (Sofyan) ini Bahkan kantor serta rumah Sofyan juga digeledah oleh penyidik KPK pada minggu lalu.

Kemudian tambah Febri, dalam proses penyisiran tersebut penyidik KPK menyita berbagai dokumen dan catatan terkait Proyek PLTU Riau-I. Serta CCTV yang terpasang di kantor Sofyan juga disita penyidik.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga bahwa ada sebanyak Rp 4,8 miliar yang diterima oleh Eni untuk meluluskan penandatangan kerjasama pada proyek yang akan dikerjakan oleh kelompok usaha Apac. Eni diduga mendapatkan uang dari pengusaha Johannes Budisutrisni Kotjo selaku bos dari Apac. KPK juga memperkirakan kalau Eni tidak menikmati uang sebanyak itu sendiri, pasti ada pihak lain.

Kasus ini dimulai saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK terhadap Eni saat berada di rumah dinas Idrus serta penangkapan Johannes di kantornya. Penangkapan ini berlangsung pada Jumat (13/7/2018) yang lalu. KPK juga membawa barang bukti beruap uang sebanyak Rp 500 juta (Pecahan 100 ribu) serta menyita tanda terima dari uang tersebut.

 

 

tempo.co

Beri tanggapan