fbpx
Pasang iklan

Birds of Prey dan Seni Merayakan Patah Hati

...

Gema.id –Manusia suka ha-hal yang dramatis. Mendramatisir sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang tidak mellow terlebih dahulu, bangkit menyelesaikan permasalahan yang dihadapi tanpa banyak omelan dan menganggapnya semua ini sebagai ujian.

Ada yang patah hati lalu mengurung diri dalam kamar tanpa ingin diganggu orang lain meski sekalipun mereka adalah orang terdekat. Sambil mengurung diri, meratapi kesedihan seakan-akan dunia telah runtuh. Lalu, menjalani pola hidup tak teratur, sekejap berubah menjadi orang yang urakan.

Bersedih, malas mengurusi diri, pola makan tak teratur. Ada yang patah hati, bersedih tanpa henti-hentinya mengkonsumi coklat.

Begitulah yang dilakukan oleh Harley Quinn yang diperankan oleh Margit Robbie dalam film Birds Of Prey film terbaru DC Universe di 2020. Harley Quinn yang hubungannya kandas dengan Joker begitu dalam meratapi kesedihan usai ditinggal sang kekasih. Hari esok sebaiknya tidak ada saja, dan dunia akan lebih baik jika berakhir lebih cepat.

Namun apakah dengan beranggapan seperti itu semuanya akan perlahan membaik, belum tentu, tidak ada jaminan. Setelah dipikir-pikir hubungan yang dijalani di lampau memang toksik, lalu mengapa harus terjerembab ke lubang yang dalam untuk merasakan luka. Jika pada akhirnya duka itu sendiri punya batas.

Sigmud Freud dalam “Mourning and Melanconlia” mengungkapkan bahwa duka punya batas. Wajar, apabila orang-orang bereaksi ketika kehilangan orang yang dicintainya atau yang dianggap paling berharga. Namun, suatu waktu orang yang berduka akan berdamai lalu menyadari yang hilang pada ujungnya akan berganti.

Seusai Harley Quinn ditinggal Joker pada awalnya Ia merasa benar-benar patah. Memang butuh waktu lama untuk mengobati, namun dirinya tetap ingin membuktikan, tanpa Joker hidup mesti tetap berjalan dan saatnya merayakan kebebasan. Dan, tak perlu buru-buru mencari pasangan baru.

Sebagai perempuan yang ingin membuktikan diri, Harley Quinn tidak sendiri. Film Birds of Prey yang disutradarai oleh Cathy Yan, Harley Quinn bersama tiga perempuan lainnya  Helena Bartinelli/Hunter (Mary Elizabeth Winted),Dinah Laurel Lance/Black Canary (Jurnee Smollet-Bell), Reene Montoya (Rosie Perez) dan Cassandra Cain (Ella Jay Basco) di Gotham punya latarbelakang kehidupan yang banyak mendapati luka.

Keempat perempuan tersebut lalu berurusan dengan mafia brutal dan seksis, Roman Sionis/Black Mask yang diperankan oleh McGregor. Mereka melampiaskan amarah dan kekecewaan pada sosok mafia tersebut yang terus menaburi virus kejahatan di Gotham. Keempatnya dengan gigih berjuang menyudahi rentetan pebuatan keji yang dilakukan oleh Roman Sionis dan komplotan nya.

Meski memiliki problema hidup yang berbeda dari masing-masing setiap tokoh bisa keluar dari pelik kehidupan yang dialami dan tak perlu larut dan jatuh lebih dalam. Bagi Harley Quinn ditinggal Joker dan putus cinta bukannlah sesuatu yang amat menyedihkan.  

Menghujat Maskulinitas Beracun

“Di balik lelaki hebat ada perempuan tangguh di belakangnya” petuah itu diungkapkan Harley Quinn saat masih menjalani hubungan romantisme bersama Joker namun setelah memutuskan berpisah nyata-nyatanya Harley Quinn tetap menjadi perempuan tangguh tanpa sosok musuh Batman tersebut.

Dominasi laki-laki atas perempuan banyak ditemuai saat keduanya menjalani sebuah relasi. Perempuan kerap dianggap subjek yang lemah, tak berdaya dan selalu butuh bantuan.

Di dalam film Birds Of Prey maskulinitas itu runtuh, lewat karakter-karakter yang terpinggirkan mereka bisa dengan tangguhnya mendobrak patriarki.

Beri tanggapan