fbpx
Pasang iklan

Berkat Komitmen Kemitraan Budidaya Ikan Berkelanjutan, RSI raih sertifikasi ASC dan BAP

Gema.id – Regal Springs Indonesia (RSI), perusahaan budidaya ikan nila asal Swiss ini berhasil raih sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) dan Best Aquaculture Practice (BAP) setelah terbukti mampu menerapkan prinsip-prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

PT. Aquafarm Nusantara (Aquafarm), anak perusahaan RSI ini terpantau aktif mengolah limbah dan meningkatkan nilai tambah pada budidaya nila menggunakan keramba jaring apung (KJA) di beberapa daerah di Indonesia.

Baca juga: Peluang Usaha Budidaya Ikan Nila (Permasalahan umum, Tantangan, Keunggulan, dan Panduan Pengelolaan)

Melalui keaktifannya tersebut Regal Springs Indonesia dapat dijadikan contoh yang baik terkait penerapan kemitraan budidaya ikan berkelanjutan. “Komitmen yang baik dalam menerapkan prinsip budidaya berkelanjutan guna peningkatan produksi ikan nila yang dilakukan RSI patut di apresiasi”, ungkap Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Kami berharap, komitmen baik yang dicontohkan RSI tersebut juga bisa dilakukan oleh seluruh pihak yang melakukan usaha budidaya ikan, masyarakat ataupun perusahaan swasta”

Imbuh Slamet

Sebagai produsen ikan nila premium bersertifikasi dengan standar internasional, produk RSI mampu bersaing di pasar global seperti Jepang, Eropa, Amerika Serikat dan Australia. Hal tersebut diraih dengan tetap menjaga komitmennya dalam penerapan budidaya berkelanjutan. Dan untuk mengapresiasi keberhasilannya dalam mengembangkan budidaya ikan berkelanjutan, RSI berhak diberikan sertifikasi Best Aquaculture Practice (BAP) dan Aquaculture Stewardship Council (ASC).

RSI juga dikenal banyak melibatkan masyarakat di sekitar wilayah usahanya. Dengan begitu, kegiatan bisnis perusahaan tersebut dapat memberikan peluang bagi warga setempat untuk memiliki penghasilan layak. Diketahui, RSI telah memekerjakan lebih dari 4.000 orang di seluruh Indonesia.

Ungkap Slamet

Potensi lahan usaha budidaya produk air tawar di Indonesia masih terbuka luas. Kendati demikian, garapan usaha budidaya di Indonesia harus dilakukan secara bertanggung jawab, berkelanjutan, dan tidak merusak lingkungan. “Hal ini demi kebaikan bersama, kualitas air dan lingkungan budidaya harus tetap terjaga dengan begitu produksi dapat ditingkatkan” jelas Slamet di SMART Fish Indonesia yang kemudian di respon DUBES Swiss untuk Indonesia.

“Kami juga menyampaikan penghargaan atas kerjasama yang baik dengan KKP dalam kegiatan SMART Fish Indonesia”

Kurt Kunz, Duta Besar Swiss untuk Indonesia

Lebih lanjut Sammy Hamzah, Presiden Komisaris RSI, mengaku bangga atas produk ikan nila Indonesia, diakuinya produk ini sangat disukai konsumen luar negeri.

Produk Ikan Nila Indonesia sangat disukai konsumen internasional. Terbukti 90% ekspor produk RSI dapat diterima dengan baik oleh pasar global.

Sammy Hamzah, Presiden Komisaris Regal Springs Indonesia

Berdasarkan data KKP, diketahui bahwa dalam kurun waktu 2015 – 2018, produksi ikan nila nasional meningkat sebesar 12,85%, dengan detil sebagai berikut

Besaran Produksi Ikan Nila NasionalTahun
1,084 Juta Ton2015
1,114 Juta Ton2016
1,265 Juta Ton2017
1,185 Juta Ton2018

Dari sumber data yang sama diketahui, provinsi yang secara tradisional menjadi sentra budidaya ikan nila adalah; Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Jawa Barat.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)