fbpx
Pasang iklan

Benarkah Pelakor Itu Ada atau Hanya Halusinasi Istri Sah

...

Gema.ID – Pelakor adalah akronim dari Perebut Laki Orang atau wanita sedang menjalin hubungan dengan pria beristri. Istilah yang mungkin bakalan rancu jika kita mencoba memaknai dengan baik-baik.

Sebelum istilah pelakor muncul, sebenarnya di Indonesia sebutan dari Wanita Idaman Lain sudah sejak dulu dikenal, yakni wanita yang menjadi simpanan seorang pria yang bersuami. Dalam hal ini memang sang suami lah yang menjadi pelaku utama dalam hubungan terlarang tersebut.

Namun baru-baru ini, istilah lebih feminis lagi dimaknai secara luas setelah penghakiman demi penghakiman dilakukan oleh istri syah kepada seorang wanita yang menjalin hubungan dengan suaminya. Seolah-olah kata pelakor menjadi alat hukum yang membolehkan wanita tersebut dihakimi.

Namun benarkah Pelakor itu benar-benar ada?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Perebut berasal dari kata dasar Rebut yang berarti melakukan aktifitas berlomba-lomba mendapatkan sesuatu. Dari kata “berlomba-lomba” dapat diambil kesimpulan jika “rebut” atau “Rebutan” tidak akan mungkin dilakukan sendiri sehingga terminologi “dia merebut buahku” tidaklah tepat, karena harusnya hanya disebut “dia mengambil buahku”, jika proses pengambilannya dilakukan secara paksa maka lebih tepat menggunakan kata rampas atau “dia merampas punyaku”.

Jadi dengan kata lain harusnya kita tidak pernah dengan istilah Wanita perebut laki orang, karena sejatinya si wanita dan si istri sedang tidak rebutan suami dalam kasus ini sang istri sudah jelas-jelas memiliki si prianya terlebih dahulu. Jadi secara terminologi mungkin lebih baik menyebutnya dengan sebutan “perampas laki orang” dan prasa ini juga bisa sama-sama disebut sebagai Pelakor.

Hanya saja jika kita melihat lebih jauh lagi tentang fenomena “pelakor” yang sepertinya sedang booming belakangan ini, biasanya si pria yang sedang menjalin hubungan gelap dengan wanita lain tidak lah secara mutlak dimiliki kekasih barunya dan meninggalkan sang istri. Jadi kata rampas pun sebenarnya tidaklah begitu tepat untuk mewakili fenomena ini.

Mari kita berupaya memahami makna dari bahasa dalam konteks budaya, hampir sama dengan dengan matematika, bahasa memang susunan formula yang terlihat baku sehingga bisa disimpulkan bahwa kesalahan dalam penempetan jenis kata akan membuat struktur salah, sebut saja misalnya kita sama-sama paham struktur dasar dari sebuah kalimat adalah SPOK, namun jika unsur keterangan tidak begitu penting maka K bisa dihilangkan.

Namun Bahasa sebagai konteks dari budaya, bukanlah tentang rumus-rumusan saklek seperti Grammar pada bahasa Inggris. Bahasa adalah produk dari budaya yang berkembang sehingga kegunaan dari bahasa tidaklah diletakkan pada susunan katanya tapi pada perannya sebagai alat komunikasi.

Selama ekspresi yang disampaikan telah tepat menyampaikan tujuan, maka produk dari bahsa tersebut sudah tepat atau dengan kata lain mari kita sama-sama memaklumi penggunaan diksinya dan lebih fokus dari makna yang ditujukan dari Pelakor.

Kita sama-sama memahami jika Pelakor ditujukan pada wanita yang dengan sadar melakukan upaya untuk menggaet hati seorang pria yang sudah memiliki rumah tangga dan istri yang saha agar tertarik untuk berhubungan kepadanya. Dimana hubungan tersebut lebih dari teman biasa, tapi melibatkan cinta dan sampai hubungan badan layaknya suami istri.

Jennifer Dunn Diisukan Sebagai Salah Satu Artis Berstatus Pelakor seksi Jilbab ketat Jilboob
Jennifer Dunn Diisukan Sebagai Salah Satu Artis Berstatus Pelakor

Jadi Pelakor itu benar-benar ada?

Sepertinya sangat sulit menempatkan seorang pria sebagai subjek pasif dari hubungan antara Suami-Istri dan Pelakor. Karena seperti mahluk paling aktif di bumi selain mahluk nokturnal, paling tidak modus datanya akan menunjukkan lebih banyak pria yang aktif dibandingkan wanita.

Pada saat hubungan antara seorang suami dengan wanita lain terjalin, hal tersebut tidak hanya dampak dari satu pihak dimana si wanita saja yang ngotot untuk menjalin hubungan dengan pasangan orang lain, tapi juga dibarengi dengan respon dari si pria atau malah kebanyak dari wanita yang dituduh pelakor ini sebenarnya korban dari mulut buaya sang pria yang mengaku bujangan padahal cucunya segudang.

Perasaan tidak ihlas dan ingin menaruh kesalah diluar rumah tangga dari pasangan yan sah lah menjadi tonggak utama dari istilah pelakor ini muncul, padahal mungkin si istri mungkin juga sadar dalam hati kecilnya jika dia juga ikut ambil bagian dalam prahara rumah tangga yang ia alami.

Jadi hubungan terlerang tersebut bukanlah bidang kajian dari rebut-rebutan, melainkan perjanjian atau kesepakatan antara ke dua belah pihak baik di pihak “Pelakor” maupun di pihak suami untuk menjalin hubungan tidak resmi di luar nikah.

Tentu saja solusi dari masalah ini ada banyak salah satunya ialah menggunakan analogi, jika kalmu tidak ingin kue-mu direbut orang lain, maka berbagilah toh kue sendiri ingin dimakan oleh orang lain selain kamu. Berbagi kue tidak akan memunculkan kata rebut sampai akhir dari kisah, happy ending selamnya dan juga berkah tentunya.

Jadi pelakor itu benar-benar ada? Sepertinya kita harus mengurangi penggunaan istilah ini dalam kehidupan sehari-hari.

Beri tanggapan