fbpx
Pasang iklan

Bali United: Melantai di Bursa Saham, Melesat di Papan Klasemen Liga Indonesia

Gema.id – “Harapannya ya, tiga tahun ke depan Bali United sudah menjadi juara Liga Indonesia,” ungkap Purti Sudali Marekting Director Bali United dikutip dari Asumsi.co

Begitulah jawaban yang diungkapkan Putri Sudali menanggapi peluang juara Bali United setelah mereka  resmi menjadi klub sepakbola di Indonesia pertama yang bergabung ke lantai bursa saham, pada 17 Juni 2019 silam.

Bali United tercatat bukan hanya menjadi klub pertama di Indonesia, langkah ini juga menjadi langkah pertama yang ditempuh sebuah klub sepakbola  di Asia Tenggara. Di sepakbola luar negeri, apalagi di Eropa telah banyak melantai di Bursa Saham, Manchester United adalah salah satunya dari sekian banyak klub besar sepakbola dunia lainnya ikut mencicipi dan, sangat sukses. 

PT Bali Bintang Sejahtera  menawarkan sahamnya dengan skema IPO (Initial Public Offering) maka dengan ini menjadi saham  go public, saham yang bisa dijual kepada masyarakat umum. Mereka tercatat sebagai perusahaan publik ke-632 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebanyak 33.33% (2 milliar unit saham) dapat dibeli publik dengan penawaran umum Rp175 rupiah per saham  Bali United  dari dana sebesar Rp350 milliar dimiliki Bali United. Diperdagangkan dengan kode “BOLA”.

Biasanya sebuah perusahaan menggiring saham mereka untuk go public ditandai dengan dua kemungkinan, pertama pendanaan dengan berhutang (Debt Financing) dan kedua, pendanaan dengan menawarkan kepemilikan perusahaan kepada pihak yang bersedia memberikan dana (Equity Financing).

Pada usaha kedua lah Bali United mendorong saham mereka ke dalam IPO.

“Dengan dilepasnya saham Bali United untuk umum, akan semakin banyak pihak tercapainya visi misi Bali United untuk meraih kesuksesan yang berkelanjutan dengan terus terinovasi baik di bidang sepakbola maupun industri olahraga dan hiburan secara luas,” kata CEO Bali United , Yabes Tanuri, Bursa Efek Indonesia  (BEI), Jakarta 17 Juni dilansir dari Reuters .

Melihat, penampilan Bali United di kancah Liga  Shopee 1 Indonesia, barangkali tidak butuh waktu terlalu lama, tiga tahun ked epan seperti yang diungkapkan Marketing Director Bali United, Purti Sudali untuk melihat Bali United juara Liga Indonesia.

Bali United kini berada dipuncak klasemen sementara Liga Indonesia dan sebelumnya resmi keluar sebagai juara paruh musim. Tim asuhan Stefano Cuggura Teco berlari kencang di Liga Indonesia. Pasukan Serdadu Tridatu kini butuh satu poin lagi untuk memastikan diri menjadi juara Liga Indonesia dengan koleksi 60 poin dari 29 pertandingan tim terdekat Borneo FC diurutan kedua baru mengoleksi 45 poin, artinya tinggal sejengkal lagi catatan sejarah akan mereka ukir.

Hadir ditengah-tengah Carut Marut Liga Indonesia

Nama Bali United di persepakbolaan dalam negeri belum terbilang cukup lama, bahkan jejak historis mereka amat pendek dan kerap mendapatkan cemooh, pernah disebut sebagai ‘klub siluman’. Lantaran kehadiran mereka di Liga Indonesia muncul kepermukaan secara tiba-tiba, berbeda dibanding klub-klub ternama yang telah melekat di persepakbolaan nasional, seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Makassar dan Persita Tangerang, bermula dari akar rumput.

Kemunculan Bali United memang tidak datang dari kasta terbawah Liga Indonesia, kesulitan financial  Persisam Putra Samarinda menjadi angin segar kemunculan Bali United,  mereka menjual klub ke pengusaha bernama Pieter Tanuri, di bawah kepemilikan pengusaha asal Indonesia ini, memindahkan markas dari Kalimantan ke Bali.

Tidak sekadar pemindahan markas klub, nama juga diganti dari nama besar Persisam Samarinda  yang merupakan tim eks perserikatan berganti menjadi Bali United, kini bermarkas di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Pada tahun 2015 Bali United menginjakkan kaki di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, awal mula nama Bali United mencicipi sepakbola Indonesia penuh dengan carut-marut pengurus tertinggi, sehingga liga tidak selesai dan putus di tengah jalan.

Baca Juga: Sepakbola Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja, Apa Harus Turun ke Jalan?

Di tahun 2017, usai konflik internal kepengurusan selesai dan liga terlaksana dengan sepenuhnya, Bali United merasakan persaingan liga. Mereka menempati posisi kedua klasemen akhir liga, di musim itu pula  bisa dikatakan sebuah prestasi tertinggi klub dengan duduk di peringkat kedua mengalahkan nama-nama besar klub lainnya seperti Arema  Malang dan Persipura Jayapura .

Namun, juga dirasakan pahit bagi Bali United, lantaran poin mereka sama dengan Bhayangkara sang juara di musim itu mereka sama-sama mengoleksi 68 poin, namun tetap gagal karena kalah jumlah gol. Belum lagi kontroversial dipenghujung liga yang membuat mereka gagal meraih gelar.

Usaha Menjadikan Sepakbola sebagai Lahan Industri

Sepakbola Indonesia telah menjadi lahan basa, menjadi pangsa pasar baru yang begitu menggiurkan bagi pemodal namun bukan hal yang mudah untuk terus meraih untung.

Jadwal yang tidak tersusun rapi, penundaan pertandingan didasari alasan tidak logis hingga persepakbolaan yang tidak henti-hentinya diwarnai kerusuhan antara suporter sampai pada titik persepakbolaan digiring  masuk ke kamar politik.

Hal-hal di atas tentu menjadi tantangan untuk memandang sepak bola di Indonesia  sebagai industri yang menyehatkan bagi siapa saja ingin merebut peluang usaha dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Namun pada titik ini, satu hal yang pasti dan tidak pernah hilang atau sedikit pun memudar adalah antusiasme dan fanatisme orang-orang Indonesia pada sepakbola boleh dikatakan tiada tanding.

Dengan melihat aspek ekonomi ini disertai berbagai perkiraan pasar (forecasting), Bali United memberanikan diri untuk mengeruk potensi bisnis dari sepakbola.

Jumlah penonton Liga Indonesia setiap tahunnya terus naik. Pada tahun lalu naik 16%  dan potensi matchday terus meningkat.

Hal ini membuat pertandingan sepakbola menjadi incaran stasiun-stasiun televisi, terlebih swasta yang bisa menaikkan harga dari broadcasting light dari tayang-tayang liga domestik.

Belum lagi penjualan tiket penonton dalam stadion ditambah pendapatan dari marchendise yang merupakan sumber pendapatan (income sources) di dunia sepakbola.

Prestasi Tetaplah yang Utama

Pada awal melantai, saham Bali United di bursa saham mengalami lonjakan drastis. Saham BOLA (kode saham Bali United) terus mendapatkan penawaran di tengah IHSG melemah. Terdengar positif di awal mula mereka melantai saham.

Tidak hanya mendapat respon positif saat klub tersebut memutuskan untuk menerobos batas di tengah-tengah persepakbolaan Indonesia selalu termungkinkan menghadirkan sesuatu yang dapat merugikan sebuah klub. Kini, Bali United berada di puncak klasemen liga dan besar peluang mereka untuk merasakan juara pertama kalinya dalam sejarah klub, sudah di depan mata.

Bali United menjadi Bussines Entity sekaligus menjadi klub olahraga, tentu tidak hanya dituntut untuk mengejar profit. Keharusan klub sepakbola untuk tampil menjadi juara adalah sebuah kewajiban.

“Penting dua-duanya karena gini, kalau misalnya kita nggak punya duit udah pasti susah juaranya. Tapi sebaliknya kalau kita punya duit belum tentu pasti sudah juara. Jadi keduanya harus jalan berkesinambungan,” ungkap Putri Sudali.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)