fbpx
Pasang iklan

Bagaimana COVID Crash Menghantam Isi Dompetmu

...

Gema.id— Berakhirnya masa cuti, masa-masa bekerja di rumah dicabut hingga kehilangan pekerjaan semuanya menjadi cerita di tengah krisis, karena badai Covid-19.

Tidak mudah menjalani apa yang menjadi kesibukan Anda sebelumnya dalam masa-masa perubahan ini dan lalu berusaha mencoba beradabtasi. Salah satu perbedaan besarnya terjadi pada masalah keuangan pribadi kita.

Ketika langkah-langkah dukungan diberikan untuk memulihkan keuangan, di satu sisi krisis ekonomi setelah dihantam badai Covid, dampaknya mulai mengalir keluar dengan cara yang bahkan mungkin tidak Anda sadari, sesuatu yang membuat seseorang sulit keluar dari lingkaran krisis, sepertinya akan berlangsung lama.

Meminjam jauh lebih sulit

Masa-masa sulit tiba, pemberi pinjaman bersiap-siap menghadapi badai ekonomi. Sekarang jauh lebih sulit untuk mendapatkan hipotek dengan setoran kecil, terutama karena perusahaan kartu kredit telah secara dramatis mengurangi basis kredit dan periode bebas bunga telah menyusut.

Para ahli memperingatkan bahwa meskipun ada sedikit peningkatan dalam jumlah produk yang tersedia, segalanya tidak akan menjadi lebih mudah.

“Sejak kami dilanda krisis Covid pinjaman keuangan dan segalanya menjadi lebih buruk,” kata Sarah Coles, analis keuangan pribadi untuk Hagreaves Lansdown di kutip dari The Independent.

“Dalam tiga bulan ke depan, hidup akan menjadi lebih sulit bagi peminjam. Pinjaman akan lebih sulit didapat, dan pada saat yang sama, berakhirnya penguncian berarti permintaan akan pulih. Jadi, lebih banyak orang akan dibiarkan berjuang untuk menemukan pinjaman yang mereka butuhkan.”

Itu berarti Anda membutuhkan Rencana B, Coles menambahkan. Dalam dunia di mana lebih sulit untuk meminjam dengan murah untuk memenuhi kebutuhan, penting untuk menyusun anggaran untuk membantu Anda menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran Anda.

“Saat penghasilan Anda turun, ini akan menjadi proses pemotongan yang menyakitkan,”katanya.

“Namun, jauh lebih baik menghadapi rasa sakit sekarang, daripada menunggu sampai Anda memiliki masalah hutang di atas segalanya.”

Rentan terjadi penipuan

Penipu sering menggunakan perkembangan berita terbaru untuk memikat investor agar melakukan penipuan. Dunia telah berubah dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir dan meskipun umat manusia telah menghasilkan yang terbaik dalam banyak hal, namun ia juga dapat menarik yang terburuk dalam beberapa hal.

“Beberapa penipuan telah menyamar sebagai Organisasi Kesehatan Dunia, sementara yang lain menyamar sebagai otoritas kesehatan negara lain,” kata Ben Faulkner, direktur perencana keuangan EQ Investors.

“Penipuan ini memilih banyak bentuk, bisa mengenai polis asuransi, transfer pensiun, atau peluang investasi dengan dana keuangan yang tinggi, termasuk investasi dalam perawatan virus corona.

Penipu yang canggih itu akan mencoba banyak hal untuk membujuk Anda mengungkapkan informasi pribadi atau keuangan atau mengkilk tautan yang mungkin berisi perangkat lunak jahat.

Faktanya, satu dari lima orang telah menerima email, teks, panggilan telepon, dan/atau komunikasi mencurigakan lainnya yang menyebut virus corona, menurut angka dari Aviva. Itu berarti 12 juta orang telah menjadi target penipuan.

Peringatan itu datang terlambat untuk satu dari dua belas dari kita yang telah tertangkap dan ditipu oleh materi terkait Covid, dengan sebagian besar korban melaporkan bahwa penipu berpura-pura berasal dari perusahaan yang sudah mereka tangani.

Tagihan Anda bisa naik

Jika Anda kehilangan pekerjaan, profil risiko Anda berubah sehingga biaya seperti asuransi dapat meningkat saat penyedia menilai kembali keadaan Anda. Ini bisa berarti pukulan ganda: kehilangan penghasilan dan kemudian dihadapkan dengan meningkatnya tagihan yang tidak dapat Anda bayar karenanya.

Seperti halnya ketika Anda tidak masuk dalam kategori subsidi, namun tetap diharus membayar tagihan penuh seperti sebelum-sebelumnya saat krisis akibat badai Covid belum melanda dunia. Dan Anda termasuk satu dari jutaan orang-orang yang kehilangan pekerjaan atau terpaksa menerima pemotongan gaji karena krisis melanda hampir di setiap sektor.

Anda membuat keputusan pengeluaran yang aneh

Beberapa orang  telah menghemat banyak uang, yang lain telah terlempar langsung ke dalam kesulitan keuangan.

Tetapi jangan membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa keputusan pengeluran Anda di mana pun itu tidak terpengaruhi.

“Dalam keadaan biasa, banyak dari kita berpikir menabung dan membuat keputusan keuangan sebagai tugas daripada sesuatu yang kita nikmati, dan saat ini, kemungkinan kita mendapati diri kita lebih stres tentang kehidupan keuangan kita daripada sebelumnya,” kata Beatrice Widmark, peneliti metode aplikasi kesejahteraan keuangan, Dreams.

Ketika dihadapkan pada keputusan pengeluaran, konsumen yang stres akan membayar kebutuhan yang menurut mereka akan memulihkan kontrol daripada berbelanja secara royal pada hal-hal yang tidak diperlukan.

“Konflik keinginan untuk menyimpan barang-barang penting, membeli barang untuk membuat hidup di rumah lebih mudah, dan memanfaatkan waktu jeda ini untuk menabung, dapat membuat kita merasa cemas tentang cara mengelola keuangan kita,” tambah Widmark.

“Manusia pada dasarnya tidak rasional dan mengandalkan perasaan, bias kognitif, mental kita akan selalu terlibat dalam pengambilan keputusan. Jadi alih-alih mencoba menggagalkan perasaan cemas, dan mungkin merasa gagal jika tidak berhasil, kita dapat menerima bias dan emosi kita sedang bermain mencari cara untuk mengatasinya untuk membuat keputusan yang lebih baik secara finansial.”

Pikirkan tentang mengapa Anda ingin menabung atau membelanjakan, daripada mengkhwatirkan tentang bagaimana Anda bisa mencapainya.

“Dengan menanyai perasaanmu tentang keuangan. Anda mungkin bisa sampai  ke akar kecemasan dan mengatasi emosi Anda dengan cara memungkinkan untuk pendekatan yang seimbang.”

Beri tanggapan