fbpx
Pasang iklan

Apakah Presiden Kita Kafir?

Gema – Ustad Riyadh bin Badr Bajrey yang mengisi pengajian di Chanel El-Gadda.tv, terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari lembaran kertas yang dikirim oleh pemirsa.

“Apakah presiden kita kafir?” demikian pertanyaan tersebut.

Ustad Riyadh tidak langsung menjawab.

“Wadduh, gak usah ngaji ke sini deh, geli…, Ngajinya sama yang berjemur anti Monas sana noh… yang begitu mudah mengatakan kafir, kafir, kafir…”

Entah bagaimana reaksi si pembuat pertanyaan mendengar jawaban si ustad. Aksi Monas yang dibangga-banggakannya, ternyata bagi ustad tak lebih dari sekedar aksi jemuran. 

“Lah, presiden kita muslim, muslim beneran, udah. Penguasa kita muslim, kecuali memang agamanya non muslim, ya udah, dia non muslim. Tapi,dia muslim, Apa yang membuat kamu ragu dari keislamannya? Apa…!?”, pak ustad geleng-geleng mungkin tanda kesal.

Apakah karena ia diusung oleh PDIP? Partai yang seringkali menjadi korban hoax dituduh menghalalkan babi. Atau Ibu Megawati yang juga pernah difitnah membenci Islam? Mungkin juga si penanya menelan mentah-mentah teriakan yang menuduh Jokowi itu PKI.

“Pemerintahan kita, pemerintahan Islam. Walaupun menerapkan hukum lain selain islam, ya itu kekurangannya. Tapi, apakah dengan itu membuat pemerintahannya kafir? Tidak…! Pemerintahan kita Islam dengan segala kekurangannya. Begitu… “

Si ustad yang kepalang tanggung menjawab pertanyaan tulisan itu, sepertinya tak tahan untuk tidak mengomeli penanya yang sama sekali takmemiliki muatan yang positif itu.

“Rukun Islam ada berapa?” Tanya ustad Riyadh. “Lima” jawab jemaah.

“Lima-limanya dikoordinir, diatur oleh pemerintah. Ente masuk islam, diatur gak perubahan dalam KTP oleh pemerintah? Shalat. Diatur gakoleh pemerintah? Dikasih tahu gak waktu shalat? Puasa. Diatur gak waktunya oleh pemerintah? Tanggal berapa mulainya? Terus tanggal berapa shalat Iednya, diatur gak? Udah gitu, zakat. Zakat, diatur gak oleh pemerintah?”

 “Ibadah haji pun demikian. Semua diatur oleh pemerintah. Rukun Islam kita diatur oleh pemerintah, ente masih mau ngatain kafir? Lalu, Islamnya yang mana dong…?”

Ingin merujuk Islam dari tanah kelahiran, Arab Saudi, yang hingga kini setia memerangi negeri Yaman? Bahkan baru-baru ini merilis hasil kesepakatan bersama pemerintah Israel, melarang sebuah kelompok warga Palestina untuk pergi beribadah haji. Atau Islam di Afganistan, yang hingga kini setiap saat dihantui teror pembunuhan. Dalam perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, di sebuah gedung Kota Kabul, sebuah bom meledak di tengah-tengah jemaah yang sedang mengadakan acara peringatan maulid. Korban jiwa tak terhindarkan. Klaim kafir bahkan dialamatkan kepada sesama muslim, hanya karena meyakini bahwa peringatan maulid itu haram.

“Ente bilang, sesungguhnya pemerintah Inggris lebih islami dibanding pemerintah kita. Itu bahlul…”

“Salah tempat ente ngaji di sini, untung pake tulisan. coba hadir di sini nanya langsung, gue jemut-jemut dia…”

Pengajian yang kerap menghadirkan ceramah yang isinya‘teriakan kafir ke pemerintah’ ini memang sering kita dengar di mesjid dekat rumah atau di youtube. Biasanya, mereka menyebut berbagai jenis produk, kebijakan, bahkan jenis pakaian sebagai produk kafir. Tapi, tanpa merasa bersalah, hidup dan mengais untung lewat produk-produk kafir itu.

“Apa yang membuatmu pede, bahwasanya kamu lebih baik dari dia? Ya, banyak kekurangannya pemerintahan, ya. Tapi jasanya banyak. Perjuangannya untuk maslahat umum banyak, dan itu pahala yang besar mengalir kepadanya. Dan itu, membuat dihapuskan dosa-dosanya. Belum lagi lidahmu yang terus-menerus membicarakannya, nambah habis dosa-dosanya. Sungguh dia lebih mulia dari padamu.” 

“Tidaklah kamu berjuang untuk kemasalahatan dirimu sendiri,bukan?” Jika salah, paling yang rugi hanya kamu seorang, gak ada yang nyumpahin. Tapi kalau untung atau menang, yang senang, ya hanya kamu seorang.   

“Adapun mereka, pemerintah, mengorbankan waktu, tenaga, untuk maslahat banyak orang. Ya, ada erornya juga, its human being, dia bukan malaikat. Manusiawi. Jadi, sebenarnya, kalian yang tidak siap menerima pemerintahan yang adil dan baik.”

“Kita yang gak siap dengan pemerintahan yang islami. Umar bin Khattab dibunuh, Usman dibunuh, Ali dibunuh. Umar bin Abdul Aziz dibunuh. Kenapa? Terlalu mulia untuk umat yang kualitas imannya makin menurun.”

Dari pada sibuk mencaci maki pemerintah yang setiap saat melakukan kebaikan untuk orang banyak, mengapa hatimu tidak tersentuh sedikit pun? “Kenapa tak kau arahkan lisanmu mendoakan taufik dan hidayah kepadanya?,” kata Ustad.  

Jumlah umat Islam di negara kita memang yang terbanyak,tapi, bak buih di atas permukaan lautan. Hanya terdengar teriakan-teriakan,tanpa makna. Berpikir menyelamatkan kesucian tauhid lewat aksi bela bendera. Lupa kalau bendera bertuliskan kalimat tauhid serupa itulah yang dilarang di sejumlah negara di Timur Tengah, karena identitas organisasi terlarang. Lupa kalau bendera macam itu bahkan digunakan oleh ISIS untuk memotong leher manusia lainnya, mereka pun merasa paling beriman.

Kita sibuk mendesak pemerintah untuk adil, tapi melupakan bagaimana seharusnya memosisikan diri sebagai manusia, alih-alih mengklaim diri paling beriman.  “Nanti ente pulang, berendem pake bayclin, pala ente celup-celupin…” kata ustad.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)