30 Desember 2019

Apakah Kapitalisme yang Tak Manusiawi ataukah Kita yang Takut Dibilang Kampungan?

Prakiraan durasi baca: menit - Panjang artikel kata.

Harus diakui, selama ini kita lebih sering bertemu dengan pemikiran tentang bahaya kapitalisme, dan kita seperti tak kuasa mengelaknya. Terutama soal ketimpangan, yang kaya makin kaya dan miskin kian miskin, adalah implikasi kapitalisme, bahkan sudah jadi mitos.

Tak banyak karya yang bisa menggambarkan kapitalisme yang manusiawi. Tapi, bumi masih berputar. Petani di desa yang telah mengganti sapi dengan traktor untuk membajak sawah, kini bisa memanen padi dua bahkan tiga kali setahun.

Dengan peningkatan produksi yang signifikan, anak-anak desa punya biaya bersekolah tinggi. Mereka juga bisa memenuhi hasrat memiliki rumah yang berbahan semen. Minum air galon, memarkir kendaraan motor, makan ayam lebih sering, atau membelikan mainan gadget untuk si anak-anaknya bermain game dan Whatsapp-an.

Semua kemewahan itu adalah hadiah dari kesediaan mereka untuk membuang kemewahan lainnya: main bola di sawah di sela musim panen, riuhnya tanam-panen padi bersama, atau mengisap gulungan tembakau di bawah pohon lontar.

Tepatnya, waktu senggang yang hilang direbut oleh efisiensi dan efektivitas. Orang-orang lalu mengambil kesimpulan, bahwa sisi kemanusiaan yang tereduksi itu terjadi karena kapitalisme global yang rakus. 

Tapi, apakah semua ketimpangan itu adalah ulah kapitalisme?

Apakah kapitalisme benar-benar mengancam nilai-nilai kemanusiaan? Apakah perubahan, globalisasi ini terlalu cepat? Apakah kita terlanjur terlambat untuk menata-ulang, demi sekadar menemukan kembali waktu senggang? 

Sebelum menyusun kesimpulan-kesimpulan, mungkin ada baiknya mengajak Johan Norberg (Membela Kapitalisme Global, 2011) dan Eamonn Butler (Kapitalisme; Modal, Kepemilikan dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia, 2019) duduk ngopi bareng. Itu tentu saja lebih baik, dibanding berharap menemukan jawaban bagaimana sisi kapitalisme yang manusiawi dalam esai-esai di laman Indoprogress.

Soal ketimpangan, Norberg menuding orang-orang seringkali tidak adil dalam menyikapinya. Baginya, standar hidup setiap orang berbeda. Karenanya, mengukurnya tak sahih jika menggunakan neraca perbandingan. Bahwa, ketika anda merasa hidup baik-baik saja, dan malah makin baik, tak penting bagaimana gaya hidup tetangga.  

Lalu, bagaimana kecaman terhadap laju produksi yang tak terkendali itu?

Para anti-kapitalis meyakini bahwa, prinsip melipatgandakan modal inilah yang menjadi biang ketimpangan, karena hanya bisa diperankan oleh orang kaya.

Tapi, itu dibantah oleh Butler. Baginya, investor utama dan dana besar yang banyak bergulir dalam roda bisnis justru berasal dari orang biasa. Tabungan masyarakat atau dana pensiun, yang diperuntukkan-digunakan pada situasi mendesak, adalah wujud ‘kapitalis’ yang sebenarnya.

Kekuatiran lainnya dari produksi yang tak terkendali adalah ketimpangan pasar. Praktek kartel dan monopoli adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Jika supermarket merajai kota, kini minimarket menyasar kampung-kampung, dituding membunuh industri kecil. Sementara industri rumahan, butuh tidak sekadar sertifikat BPOM untuk memajang dagangannya di rak-rak swalayan yang disorot lampu terang.

Tapi, jika pasar adalah tempat penjual dan pembeli, seharusnya kekuatiran itu tak perlu dibesar-besarkan. Karena, pengusaha-pengusaha kecil berbasis komoditi lokal, tak perlu kuatir bersaing dengan produk pasta gigi atau mi instant. Jadi, tak perlu ada ajakan boikot produk tertentu.   

Dan jangan lupa, kapitalisme itu tumbuh dari rahim liberalis, prinsip yang menghendaki kemerdekaan bagi individu, siapapun. Apakah ini terdengar retoris? Tidak, terutama karena kapitalisme justru menolak paksaan dan eksploitasi, kata Butler. Malah, kapitalisme dibangun di atas dasar saling membantu melalui kebaikan dua arah.

Maksudnya, jika pembeli dan penjual terlibat transaksi, sejatinya keduanya pasti mendapatkan untung. Si penjual mendapatkan uang sebagai nilai yang diperoleh dari barang, yang dengan uang itu, akan terakumulasi menjadi modal (lagi). Dan si pembeli mendapatkan barang yang dibutuhkannya, yang bisa saja, nilainya lebih dari uang yang dikutip dari hasil jual gabah.

Kembali ke minimarket yang kerap dituduh melakukan pembunuhan pengusaha kecil, adalah wujud rakus, upaya monopoli dengan menekan harga. Tapi, sekali lagi, konsumen tak mungkin dipisahkan dalam mekanisme pasar, yang terus berubah.

Kapitalisme global: peluang endogenous lokal

Memang seharusnya ada praktek saling menyesuaikan antara produsen dengan konsumen, yang bagi idealis disebutnya sebagai ‘kompetisi sempurna’. Dan bagi Butler ‘kompetisi sempurna’ itu hanya mitos belaka. Orang atau perusahaan bisa saja terlihat mengontrol harga, tapi pasar tak pernah menjual barang-barang yang identik.

Kompetisi hanya berjalan karena kehidupan ekonomi memang tidak sempurna, dengan perusahaan berusaha mengisi kekosongan yang ada, dan berdesakan menawarkan sesuatu yang berbeda, lebih baik dan murah – bukan produk yang identik kepada semua orang, kata Butler.

Kini kita tahu, komoditi yang tak identik itu, membuka peluang atau malah memaksa tumbuhnya daya kreasi, inovasi, dari talenta yang menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai khas (endogenous) lokal.

Takut kampungan

Diskusi apakah kapitalisme mendorong peningkatan kesejahteraan mungkin lebih konstruktif dibanding upaya mengukur kadar ke-manusiawi-annya. Kecuali, dorongan konsumerisme kita yang terlanjur tak terbendung oleh hasrat meniru.

Seperti gadget, demi citra dan pesona, fungsi utama sebagai alat komunikasi plus smartphone, kadang tak lebih penting ketimbang dorongan hasrat agar terlihat gaul atau demi terlihat cerdas dan kaya.

Dan berapa banyak lagi barang yang telah terbeli, bukan karena kebutuhan, namun lebih karena godaan iklan? Jadi, apakah kapitalisme benar-benar tak manusiawi? Ataukah itu hanya dalih demi mengelak dari cap ‘kampungan’?

Penaut:
Back to Top