fbpx
Pasang iklan

Apa yang Bisa Guru Harapkan dari Nadiem?

Apa yang bisa guru harapkan dari seorang Nadiem? Jawabannya adalah pertolongan. Seperti dalam kutipan pidatonya, “Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.”

Pertolongan untuk guru

Pertolongan untuk memupus kesenjangan yang demikian lebar antara guru yang berstatus ASN dengan mereka yang masih honorer. Kesenjangan itu lebih terlihat dalam bentuk jaminan kesejahteraan.  Guru honorer digaji tak menentu. Keluhan kalau mereka digaji di bawah UMR (upah minimum regional) seringkali kita dengar.

Namun pertolongan yang paling urgen adalah bagaimana meretas sekat psikologi yang membentuk dinding tebal. Tampilan seragam ASN sudah cukup mengintimidasi guru honorer. Pandangan sterotip ini bukan hanya dari kalangan guru, namun juga berpotensi tumbuh di kalangan warga sekolah lainnya, seperti pegawai maupun siswa.

Apakah Nadiem Makarim, yang founder Gojek ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Pendidikan mampu meruntuhkan sekat psikologis itu? Jika penunjukannya menjadi bukti keseriusan Jokowi menghadapi revolusi digital 4.0, seharusnya ini jadi kabar gembira bagi guru.  

Kurikulum yang adaptif

“Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Guru Indonesia yang Tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit,” kata Nadiem.

Jamak keluhan guru yang disibukkan dengan urusan administrasi. Terutama dalam menyusun RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) yang mungkin tak akan mampu dijalankannya di kelas. Guru seringkali kehilangan waktu untuk mengamati dan mengikuti perkembangan anak karena ia harus cakap untuk melakukan riset, membuat penelitian tindakan kelas, demi kelengkapan berkas untuk kenaikan pangkat.

Setiap waktu, guru dituntut untuk menyiapkan fotocopy SK-SK demi kebutuhan pencairan tunjangan. SK yang aslinya sebagian sudah diamankan di bank, demi satu unit mobil atau rumah sederhana.  

Guru tahu, ujian bukan satu-satunya ukuran untuk mengetahui potensi atau keberhasilan belajar anak. Apalagi sekadar angka yang diperoleh dari ujian, lalu menentukan rangking kelas. Siswa butuh lebih banyak ruang belajar untuk menemukan gairah belajar yang memerdekakan.

Keberagaman bukan keseragaman  

Guru mungkin suatu waktu juga menyadari, kalau materi yang diberikannya, karena tuntutan kurikulum, sesungguhnya tidak relevan dengan kehidupan dan lingkungan siswanya. Lalu, bagaimana siswa-siswa lugu itu bisa memecahkan persoalannya di luar sekolah, sementara pengetahuan yang mereka peroleh lebih banyak terserap dari goyangan tik-tok di gadget?

Hafalan-hafalan rumus kimia atau peristiwa-peristiwa dan tokoh sejarah, menghambat mereka untuk membangun kolaborasi dan kepekaan lingkungan. Keseragaman metode pembelajaran –hafalan, menafikkan keunikan masing-masing anak.

Setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, guru pasti tahu itu. Tapi, karena sekolah menghendaki keseragaman, tatatertib itu telah membunuh keberagaman. Guru tahu, keberhasilan belajar anak tidak ditentukan oleh seragam, jenis sepatu atau ukuran panjangnya rambut siswa.

Kemerdekaan belajar

Nadiem menjanjikan perubahan. Tapi ia tak bisa melakukannya sendiri. Perubahan yang diimpikan ini harus dipahami dan dilakukan oleh seluruh elemen, perangkat birokrasi yang membawahi guru, dan tentu saja guru itu sendiri.

Awal November lalu, tepatnya tanggal 6, serentak se-Indonesia, sekolah merayakan “sekolah ramah anak.” Program nasional terdengar begitu menarik. Namun dalam prakteknya, bahkan untuk menyayikan lagu Indonesia Raya 3 stanza, banyak siswa yang hanya bengong.

Sekolah ramah anak, tentu bukan sekadar slogan. Ia harus menjadi gerakan bersama oleh seluruh warga sekolah. Iklim ramah ini penting demi menjaga hasrat anak agar betah di sekolah.

Jika sekolah jadi tempat ramah, tentu kita tidak akan lagi menyaksikan siswa bersorak saat mengetahui guru tidak masuk mengajar.

Untuk itu, siswa perlu menemukan kemerdekaan dalam belajar. Sebagaimana guru, seharusnya mampu merdeka dalam mengajar.

Bagaimana memulai perubahan itu? Nadiem berpesan, bahwa besok, di mana pun sekolah anda, lakukanlah perubahan kecil di dalam kelas anda:

  1. Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar;  
  2. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengajar di kelas;
  3. Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas;
  4. Temukan suatu bakat dalam diri siswa yang kurang percaya diri;
  5. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

Nadiem menegaskan, bahwa perubahan-perubahan kecil di dalam kelas itu, jika dilakukan secara serentak, akan menghadirkan gerak perubahan yang akan segera dituai hasilnya.  

“Sayang sekali, Pak Nadiem tak menyinggung sertifikasi,” celetuk seorang kawan yang guru. Katanya, selama ini ia malas mengurus sertifikasi, karena prosesnya yang panjang, melelahkan, dan diharuskan kuliah dulu.

Padahal, menurutnya, jika dengan sertifikasi tujuan pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan guru, kenapa harus melewati jenjang birokrasi, perkuliahan, yang oleh banyak guru tua justru menjadi momok?   

Apapun itu, selamat Hari Guru… Semoga kehadiran Nadiem Anwar Makarim pendidikan Indonesia bisa keluar dari jumudnya berkas-berkas yang menghambat proses belajar dan merampas intensitas interaksi guru dengan siswa.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)