fbpx
Pasang iklan

Amarah untuk ‘Bendera Tauhid’?

“Saya muslim, saya shalat tiap hari, berzakat dan sudah naik haji. Saya marah saat bendera Islam dibakar.” Kata teman saya sambil mengepalkan tangannya.

Saya tanya ke dia, “apa alasan kamu harus marah? Bukannya itu simbol organisasi terlarang?”

“Itu adalah pelecehan terhadap agama saya, terhadap Tuhan saya…” sambungnya berapi-api.

“Itu kan cuman bendera. Kain yang di atasnya ditulis kalimat Tauhid?”

“Justru kalimat tauhid itu adalah simbol Islam. Tulisan itu, kamu tahu, artinya adalah “Tiada Tuhan selain Allah…bagi kami, itu sangat sakral, tak ada toleransi bagi mereka yang melecehkannya…!” Demikian geramnya…  

Saya menyeruput kopi hitam dingin di depanku, sambil menyilahkannya mencicipi minuman dingin di depannya. Lalu, dengan berupaya menyusun argumentasi yang sederhana, saya mulai membuat analogi simbol sebagai sebuah tanda, hanya sinyal. Simbol adalah pesan, bukan esensi. Bendera itu hanya simbol, terlalu berlebihan jika harus ditanggapi dengan urat menegang dan wajah memerah.

Kalimat Tauhid itu bukan Tuhan, itu kalimat tentang Tuhan. Tuhan meliputi dan melampui segalanya, seluruh yang nampak maupun yang tidak nampak. Kalimat itu adalah ikrar, pengakuan diri kepada Tuhan. Tapi, andai kita tahu, semua zat di semesta ini pun berikrar kepada Tuhan.  

Jadi, intinya, bukan di tulisan, bukan di bendera, juga bukan yang dilafalkan. Karena, mereka yang bukan Islam pun bisa saja melafalkan kalimat sakral itu. Tapi, siapa yang tahu suara hati seseorang?  

Tapi, sepertinya dia dan amarahnya sudah tak terbendung. Ia bahkan, bersumpah, bahwa demi agama dan Tuhan, ia tak terima perlakuan mereka yang telah membakar bendera yang juga dipakai ISIS itu.

Lalu, saya mengingatkan, bahwa pernah suatu waktu, bendera bertuliskan kalimat Tauhid milik ISIS juga dibakar oleh Densus. Oleh aparat, cara ini ditempuh guna memberi pesan kepada para teroris, bahwa keberadaan mereka telah terendus, dan hanya tinggal waktu mereka akan segera dihabisi.

Saya juga mengingatkannya, kalau bendera dan simbol itu juga digunakan oleh HTI. Dalam berbagai pertemuan, dalam ruangan maupu di luar lapangan, HTI mengibarkan bendera itu untuk mengobarkan semangat anggotanya.

“Bro, bukannya HTI sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia, pengadilan sudah membuas putusan tentang larangan itu. Eh, bukan hanya di Indonesia, negara muslim lainnya, pun sudah mengusir organisasi ini, yang memang secara tegas menyatakan keinginan mereka mendirikan negara Khilafah.”

“Begini bro, mau dipakai ISISI atau HTI, bendera itu tetap sakral. Ia tidak boleh dipermainkan begitu. Kami justru mempertanyakan komitmen dan keimanan mereka yang mengaku Islam, tapi tidak marah dengan pelecehan ini.” Kalimatnya kembali meninggi.

“Oke, kalau begitu, bagaimana kamu menyalurkan amarah itu? Apa yang kamu lakukan dengan amarah yang tak terbendung itu?”

“Mungkin dengan demo besar, berjilid-jilid…”

“Targetnya …?”

“Menyeret anggota Banser itu untuk dihukum setimpal…”

 “Saat konferensi pers tadi siang, Pak Wiranto menjelaskan bahwa beberapa anggota Banser sudah dipanggil oleh pihak kepolisian. Mereka akan diperiksa sesuai prosedur… Apakah itu cukup?”

“Tergantung hukumannya. Kalau ringan, berarti, kami harus terus menyuarakan tuntutan…” tegasnya.   

Orang-orang percaya Tuhan, tapi tidak bisa mengklaim diri sebagai pembawa pesan Tuhan, atau merasa mewakili Tuhan untuk menghukum orang bersalah.

“Saya hanya mengingatkan, status kita dengan orang-orang yang dianggap bersalah itu adalah sama di hadapan Tuhan. Jangan sampai, keinginan yang menggebu-gebu untuk menghakimi, itu hanya hasrat emosional semata, itu justru berbahaya bro…”

Lagi pula, kita punya mekanisme hukum, sebagai sebuah negara. Hukum negara adalah sah dan berlaku untuk dipatuhi oleh seluruh warga negara, seluruh penganut agama. Jangan sampai anda memaksakan kehendak, dengan dalih ingin menghukum atas nama Tuhan…?

Tidak cukupkah bencana alam yang kita sebut sebagai wujud murka Tuhan saat saudara-saudara kita tertimpa musibah di Sulteng menjadi bentuk keangkuhan yang nyata? Saat menyebut warga di sana telah melakukan praktek syirik dan berbagai bentuk perbuatan dosa. Pernahkah kita berpikir, bagaimana warga negara lain, yang bahkan menyatakan secara tegas tidak beragama? Negara liberal yang membolehkan pernikahan sesama jenis? Negara kapitalis yang menuhankan uang? Bukankah itu adalah bentuk syirik luar biasa?   

 “Ya, mungkin tinggal tunggu waktu saja”, katanya dengan nada datar.

“Soal waktu iya. Karena kerusakan bumi ini memang sudah parah. Manusia lah yang membuat kerusakan, lalu terjadi bencana. Begitulah yang terjadi. Jangan terlalu gegabah menyebut hukuman Tuhan.”     

“Tapi bro, saya tidak habis pikir, mengapa mereka tega membakar bendera sakral itu, dipertontonkan pula?” Katanya.  

“Mengapa tidak memaafkan saja? Bukankah Nabi Saw seringkali memberi contoh tetang bagaimana seharusnya menyikapi seorang yang dianggap bersalah?” Saya berusaha meredamnya.

***

Pembicaraan kami masih panjang. Polemik Banser membakar bendera Tauhid itu, telah membuka luka lama, kala Ahok dituding telah menista Agama Islam, jelang Pilkada Jakarta tahun lalu. Argumentasi yang sama juga saya gunakan untuk membela Ahok. Bahwa Ahok, tidak menista siapapun, ia hanya menyebut ada orang yang menggunakan (mengutip ayat) AL-quran untuk kepentingan kelompoknya.

Kali ini, Ical, seorang anggota Banser dengan cara yang berbeda, dituduh menista Islam. Padahal Banser ingin menunjukkan satu hal: “ada kelompok (HTI) yang menggunakan kalimat Tauhid untuk kepentingan organisasi terlarang mereka.”

Padahal, pembakaran bendera itu selain tidak perlu, juga tidak bermanfaat. Perilaku ini justru menunjukkan adanya tindakan berlebihan yang dilakukan oleh Banser: menghukum organisasi yang memang sudah terkena hukum larangan.

Banser, lebih baik merapatkan barisan untuk menjaga aktivitas keberagamaan, juga lintas agama. Peran itulah yang justru menumbuhkan simpatik, bukannya mengambil peran persekusi, yang bisa saja ditanggapi berlebihan oleh kelompok lainnya.   Jika demikian, patutkah kita marah? Kepada siapa? Dan siapa sebenarnya yang telah berbuat nista?

3 pemikiran pada “Amarah untuk ‘Bendera Tauhid’?”

  1. Wah, Penulisnya main Play Victim, kalau Ibu kamu saya bakar, lalu saya balik loginya, biar tuhan yang menghukum saya mau tidak? Toh Ibu kamu yang saya bakar cuma jasadnya, roh dan cintanya-nya tetap Milik tuhan…..

  2. Situ muslim? Pernah dengar kisah sahabat yang mati di perang uhud gegara menjaga panji ini tetap berdiri? Atau tiga sahabat yang meninggal di perang murah butuh pertahankan bendera ini? Kalau logika anda dibandingkan iman mereka yang hidup bersama Rasul hebatan mana sih? Sholat tidak seberapa komentar masalah agama.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)