fbpx
Pasang iklan

Agar BUMDes Berjalan Optimal dan Tidak Sekadar Menghabiskan Dana Desa

Gema.id – “Membangun dari Desa” adalah program utama pemerintahan era Jokowi. Hal ini digalakkan untuk menutup kesenjangan yang terjadi antara kota dan desa. Beberapa program direncanakan untuk mencapai hal tersebut ditambah kucuran dana besar agar dapat dengan mudah terealisasi.

Masalah sektor ekonomi menjadi hal krusial yang mesti dibenahi, dengan adanya program untuk memberdayakan masyarakat dianggap perlu agar masyarakat desa memiliki sebuah usaha untuk menjadi penghasilan mereka secara bersama-sama dalam mengelolanya. Dan, jawabannya adalah mengadakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Tidak tanggung-tanggung kucuran dana besar dikeluarkan pemerintah Jokowi dalam lima tahun terakhir untuk Dana Desa dengan total anggaran nyaris Rp330 triliun. Salah satunya adalah untuk pengoptimalan BUMDesa.

Namun, dalam kenyataannya banyak BUMDes yang mangkrak  total adal 2.188 yang tidak berjalan, adapula BUMDes yang sudah beroperasi namum tidak berjalan optimal dalam pengelolannya, tercatat 1.670 BUMDes yang belum mampu menggerakkan perekonomian masyarakat desa.

Hal ini diungkapkan oleh Presiden Jokowi dalam rapat terbatas soal Dana Desa di Istana, Jakarta, Rabu (11/12/2019) lalu.  Menurutnya banyak BUMDes yang mangkrak perlu dibenahi dan dilakukan revitalisasi.

Dengan suntikkan dana desa yang betambah tahun depan kini mencapai Rp72 triliun hal tersebut menjadi fokus untuk diperhatikan bersama.

Permasalahan BUMDes

Berdasarkan Pasal 9 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun 2015 BUMDes menjadi prioritas dalam salah satu sektor yang dibiayai dari Dana Desa.

Nyatanya Dana Desa yang digunakan tak mampu berkontribusi demi siklus hidup BUMDes. Dan pada dasarnya memang tidak ada konsekuensi apabila dana yang digunakan akhirnya gagal membuat BUMDes berjalan sebagaimana di awal visi pendiriannya, sehingga BUMDes yang diadakan banyak dikelola serampangan tanpa pengelolaan manajemen mumpuni.

Selain itu terdapat pula ada BUMDes di dalam pengelolaannya masih rasa KKN, hanya dikelola oleh segilintir orang dalam keluarga, bukan dari masyarakat secara menyeluruh.

“BUMDes ini sekadar dibentuk. Setelahnya tidak dikelola dengan baik,” kata Sekretaris Jenderal Forum Indonesi untuk Forum Transparansi Anggaran (Fitra) Misbah Hasan, dikutip dari Tirto, Selasa (17/12/2019).

Selain pengelolaan yang kurang spirit kebersaman, BUMDes juga banyak sekadar didirikan tanpa perlu ada administratif menunjangnya, tanpa ada laporan pendirian serta yang paling menentukan nasib dalam sebuah usaha yang mengharapkan laba,  adalah tidak menyajilan laporan keuangan mereka.

Maka dari itu, BUMDes hanya sekadar ada, tidak berumur panjang, apalagi berkelanjutan.

Bertahan dengan Berinovasi

Tak semua gagal, meski banyak bertumbangan namun begitu banyak pula BUMDes berada di rute yang benar: menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Hal itu dicapai dengan perencanaan yang matang dan menuntut diri mereka untuk terus melakukan inovasi.

Mereka menciptakan unit usaha yang sebelumnya tidak banyak dikerjakan warga sekitar, sehingga mereka menjadi hadir guna memenuhi kebutuhan warga bukan malah hadir menjadi pesaing usaha warga setempat yang banyak dikerjakan.

Misalnya membuat “Toko Desa” yang jelas-jelas di tengah masyarakat ada banyak toko kelontongan. Bukannya salah tapi hal ini tidaklah inovatif.

Unit usaha BUMDes harus inovatif dan bersifat solutif, misalnya di desa tersebut krisis air BUMDes hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut, sehingga roda-roda perputaran ekonomi berjalan tak timpang. Atau di suatu desa sulit tentang persoalan pengemasan maka, BUMDes hadir untuk memberikan pelayanan jasa pengemasan.

Oleh karena itu perencanaan BUMDes perlu melibatkan masyarakat dalam penyusunannya agar tak sekadar hanya menjadi salah satu laporan untuk menghabiskan dana desa yang dikucurkan.

Merawat BUMDes

Untuk menghindari BUMDes gulung tikar beberapa terobosan dikeluarkan pemerintah agar usaha ini terus digerakkan, salah satu caranya adalah para pelaku kini diharapkan untuk mengecek kesehatan BUMDes yang mereka kelola.

Identifikasi kesehatan BUMDes adalah kunci sukses usaha ini tetap berjalan. Selayaknya perusahaan-perusahaan besar mereka selalu waspada dan melakukan evaluasi serta menilai dari semua segala sisih. BUMDes pun harus dijalankan dengan cara demikian.

Hal ini bisa dilakukan dengan mengakses atau bisa mendownload aplikasi Cek Kesehatan BUMDes dengan aplikasi ini maka pelaku usaha dapat dengan cepat mengetahui kondisi terkini usaha BUMDes nya.

Sahabat BUMDes akan disuruh untuk mengisi indentitas BUMDes mereka dan diberikan pertanyaan menyangkut keberlangsungan usaha mereka. Hanya dengan 15 menit Anda akan mengetahui kondisinya sehat atau sakit.

Disamping itu hal ini memiliki fungsi di antaranya pemeringkatan dan pengelompokkan BUMDes, memberikan prediksi kegagalan BUMDes dan identifikasi area perbaikan juga memberikan rekomendasi pendampingan BUMDes.

Beri tanggapan