fbpx

Menelusuri Jejak Sejarah di Pojok Benteng Rotterdam Bersama Dosen Cantik Rifda Nurhikma

(Gema Wisata) Makassar merupakan salah satu kota dengan sejarah perjuangan melawan penjajah paling gigih di Nusantara. Kota yang merupakan bagian penting dari kerajaan Gowa menjadi saksi kerasnya perjuangan pasukan Sultan Hasanuddin melawan penjajah Belanda.

Salah satu dari sekian banyak saksi bisu perjuangan melawan penjajah yang masih berdiri adalah Benteng fort Rotterdam. Benteng yang masih berdiri kokoh di tengah kota Makassar dan tepat mengarah ke laut Makassar.

Kali ini Tim Wisata Gema ditemani oleh seorang Dosen Pendidikan IPA, Universitas Negeri Makassar, Rifda Nur Hikma, sedang berkunjung ke salah satu situs sejarah terbesar di Sulawesi Selatan.

Wisata dan Hobi Fotografi model di Benteng Rotterdam bersama Hijab Cantik Rifda Nurhikma spot foto instagram di makassar
Salah satu Spot Awal Depan Pintu Rotterdam

Lokasi Benteng Rotterdam

Siang itu pukul 2.00 WITA, kami berhasil bertemu dengan wanita akrab disapa Rifda untuk menemani kami jalan-jalan di seputar Benteng Somba Opu.

Dengan Mobil Minibus, berwarna kami berjalan dari Jl. Hertasning baru ke menuju Benteng Rotterdam. Kondisi jalanan di Makassar, belakangan ini sedikit padat, terlebih semenjak pembangunan Fly Over Pettarani digenjot oleh pemerintah.

Butuh sekitar 45 menit melalui jalan Pettarani, jl. Kajoa Lalido lalu tembus ke Jl Ujung Pandang yang merupakan lokasi dari benteng yang berbentuk Penyu. Warga setempat juga memberi nama Benteng Panyua.

Penasaran dengan bentuk benteng yang dianggap mirip dengan hewan laut tersebut bernama Chelonioidea, Kami langsung saja membuka Google Map untuk melihat rupa Benteng dari ketinggian.

Bentuk Rupa Udara Benteng Rotterdam Mirip Penyu
Bentuk Rupa Udara Benteng Rotterdam Mirip Penyu

Berdasarkan pantaun kami dari Google Map, bangunan di depan kami memang terlihat seperti penyu berkaki empat dengan kepala tepat mengarah ke Laut. Posisi paling rawan saat mendapatkan serangan dari laut.

Pintu-Pintu Raksasa

Setelah beranjak dari parkiran yang cukup luas untuk menampung belasan mobil dan puluhan motor, kami langsung saja berhadapan dengan pintu gerbang rakasasa yang terbuat dari kayu yang sangat tebal.

Dua bua daun pintu kayu selebar kurang lebih 5 meter dengan tinggi yang sama terbuka lebar. Gerbang tersebut terbuat dari dua lapis yang dijaga oleh beberapa petugas dari pemerintah daerah kota Makassar.

Sebelum masuk, para petugas meminta kami mengisi buku tamu dan juga memberikan sumbangan seikhlasnya saat masuk oleh petugas. Bagi yang ingin menyumbang tidak dipatok tarif, dan kami mencoba untuk memberikan sumbangan untuk mengetahui apakah sumbanga tersebut wajib atau tidak.

Ternyata untuk masuk ke Benteng Rotterdam tidak dipungut biaya sama sekali, para petugas dengan ramah mempersilahkan kami masuk, namun akhirnya setelah melewati gerbang salah dari tim kami kembali dan memberikan sumbangan.

Setelah pintu rakasa, tedapat jejeran bangunan di dalam Benteng dengan taman-taman rumput yang dihiasi sejenis tanaman palem mungil setinggi 2 sampai 3 meter.

Seluruh bangunan terlihat baru dengan cat berwarna krem dan atap berwarna merah. Struktur bangunan terlihat kuno dengan kayu-kayu besar yang menjadi penyangga atap.

Salah satu Lorong yang menjadi akses naik ke arah Benteng.
Salah satu Lorong yang menjadi akses naik ke arah Benteng.

Bangunan-bangunan ini seolah mengantarkan pikiranku melayang ke 4 abad sebelumnya. Terbayang betapa dahsyatnya pertempuran pasukan Ayam Jantan dari timur mempertahankan benteng yang akhirnya jatuh ke tangan Cornelis Spellman.

Tak ingin terlalu jauh menerawang, kami mulai menyusuri Benteng Rotterdam ke arah selatan. Pada sisi Selatan benteng terdapan sebuah pintu yang menghubungan sisi luar benteng. Sis ini berisi padang rumput, namun dibatasi oleh sebuah kanal yang cukup lebar.

Dari sisi ini terlihat betapa uniknya bangunan ini dengan gaya puntuk berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran mencapai 3 meter. Jelas saja, jika Ibu Rifda terlihat sangat kecil jika berpose di dekat pintu. Di atas dari pintu tersebut terdapat sebuah jendela berukuran kota yang kini dilengkapi dengan jeruji besi.

Salah Satu  Pintu yang Menghubungakn Lapangan di Sisi Selatan Benteng
Salah Satu Pintu yang Menghubungakn Lapangan di Sisi Selatan Benteng

Sayangnya kami lupa meminta bantuan Guide, pada kali ini. Padahal rasa penasaranku akan engsel pintu yang terbuat dari plat besi tebal ini sangat unik. Mungkin saja pintu ini masih menyimpan memori perang 1669, ketika Sultan Hasanuddin harus mennyerahkan Benteng yang dibangun oleh leluhurnya pada tahun 1545, I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna, raja Gowa ke 9.

Lorong Sempit di Ketinggian.

Kami sempat mengambil beberapa Gambar dari Rifda, ternyata dosen muda ini adalah seorang perantau dari Kalimantan, belum genap tiga tahun di Makassar, dan ini juga kali pertamanya ke Benteng ini. Wajarlah rasanya jika kami sedikit agak “gila” mengabadikan beberapa sudut di tempat ini.

Batu Rakasas Penyanggah Benteng Jadi Latar Rifda mengabadikan Momen pertamanya di Benteng Rotterdam
Batu Rakasas Penyanggah Benteng Jadi Latar Rifda mengabadikan Momen pertamanya di Benteng Rotterdam

Setelah mengambil beberapa gambar, kami kemudian bergeser ke arah timur. Dari sini kami menaiki tangga yang sedikit menukit ke atas. Tangga ini menghubungkan kami ke bagian dinding atas Benteng.

Dari titik ini kami bisa melihat jelas seluruh isi benteng. Seluruh benteng terhubung dengan sebuah lorong selebar 2 meter. Sepertinya ini tempat para prajurit berlarian kesana dan kemari saat mencoba mempertahankan benteng dari segala sisi.

Wisata dan Hobi Fotografi model di Benteng Rotterdam bersama Hijab Cantik Rifda Nurhikma (7)
Lorong-Lorong di atas Dinding Benteng ROtterdam

Lorong yang kami jalani merupakan jalur yang menguhubungkan seluruh Isi benteng. Struktur lorong sebagian sudah dilapisi oleh semen-semen yang merupakan bahan bangunan modern dan tentu saja tidak dibangun di zaman perang dahulu.

Hanya saja sebagian struktur asli dari dinding-dinding benteng ini masih dapat disaksikan. Lapuk, tua dan termakan usia, namun besarnya ukuran batu tersebut pernah mendengarkan letusan-letusan meriam dari pa’bundukan lompoa di Makassar.

Rifda sedang duduk di atas batu besar di dinding Benteng Rotterdam
Rifda sedang duduk di atas batu besar di dinding Benteng Rotterdam

Konon ada sebuah meriam raksasa pesanan kerajaan Gowa dari Eropa yang dibawa oleh kapal dagang Denmark ke Tana Karaeng pernah bercokol di benteng ini. Meriam yang menjadi momok bagi armada laut Spellman dalam masa penaklukan Gowa.

Mariam Ana’ Mangkasarak, namanya. Epos mengenai kedahsyatan Meriam ini pernah diceritakan oleh S.M. Noor dalam Novel berjudul ‘Perang Makassar 1669’ dan juga karya Mappajarungi Manan berjudul ‘Gadis Portugis’.

Anhar Gonggong pun tidak menyangsikan ke dua karya ini dalam menggambarkan sejarah perjuangan Kerajaan Gowa, meskipun dalam bentuk ‘Spin-off‘ dari kisah Sultan Hasanuddin.

Termakan Waktu

Hampir sama dengan perjalanan singkat kami bersama Rifda di Benteng Rotterdam, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5.30. Waktu yang cukup sore untuk segera pulang.

90 menit rasanya sangat kurang waktu yang kami dapatkan untuk menikmati seluruh isi Benteng. Belum sempat kami menginjakkan kaki di museum i La Galigo, sebuah epos besar dibalik sejarah kelahiran suku-suku di Sulawesi Selatan, atau mengunjungi ruang tahan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Makassar dan meninggal di tanah Karaeng dalam perjuangan melawan penjajah di Jogjakarta.

Lagi-lagi waktu bukanlah milik manusia, kita hanya bisa melewati ke arah depan, tanpa bisa berbuat apa-apa. Menapakkan jejak-jejak sejarah seperti benteng yang telah kami sambangi ini, terukir indah di sejarah, atau hilang bersama masa lalu. Namun satu yang pasti, suatu saat kami akan kembali ke sini, untuk menggali lebih banyak kisah yang tersimpan di dinding bisu wisata sejarah Benteng Rotterdam.

Beri tanggapan