fbpx

Wewey dan Dua Sisi Indonesia

Gema – Kabar Wewey yang berhasil menyabet medali emas setelah mengalahkan pesilat dari Vietnam menjadi buah bibir. Tambahan medali emas yang berhasil didulang Wey, mengokohkan posisi Indonesia di urutan keempat di ajang olahraga paling bergengsi se-Asia.

Indonesia menorehkan rekor dengan 31 emas, melampaui India dan Uzbekistan.

Tentang prestasi Wewey, sebenarnya, biasa saja, ketika kita mendengar seorang atlet perempuan yang akhirnya menjadi juara pada sebuah pertandingan.

You Chou Wey, nama yang diberikan orangtuanya saat lahir, yang berarti nomor satu. Sebenarnya Mama inginnya Wey jadi model saja, meski saat pulang ke rumah ia bawa trophy. Wey ngotot tetap bersilat, dan akhirnya mama luluh juga.

Tapi, yang menyita perhatian adalah kisahnya. Emas yang berhasil dimenangkan Wewey ibarat bonus dari keberhasilannya menjalani hidup yang getir. Ia menggambarkan hidupnya serupa paradoks. Ia keturunan Tionghoa, menekuni olahraga yang lebih dikenal sebagai tradisi melayu, dan ia tumbuh dari keluarga yang jauh dari kata berkecukupan.

Gas langka dan listrik mahal

Sehari sebelum Wewey viral di facebook, elpiji 3 kg juga viral karena langka. Beberapa akun menuliskan kejengkelannya dengan kata-kata keluhan. Bahkan, beberapa di antaranya, mengutip nama Presiden Jokowi untuk disalahkan.

“LPG langka, 2019 ganti presiden.” Apapun situasi sulitnya, sepertinya solusi hanya satu: ganti presiden. Sesimpel itu? Bahkan, tanpa telaah mendalam dan analisa yang konferehensif.

Tapi, ada yang ironi dari keluhan gas langka. Produk hasil konversi minyak tanah isi 3 kg ini sebenarnya hanya diperuntukkan bagi kalangan miskin. Berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 104 Tahun 2017 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG 3 kg hanya diperuntukkan bagi rumah tangga dan industry rumah tangga dan kegiatan Usaha Kecil Mikro (UKM).

Kenyataannya, kalangan masyarakat mampu, pengusaha, bahkan pegawai ASN, juga menikmati produk bersubsidi itu. Di kampung, para petani merakit perangkat berbahan bakar gas untuk mengatrol air masuk ke lahan persawan mereka. Produk yang sama juga digunakan oleh peternakan dan nelayan berskala besar.

Artinya, keluhan kelangkaan LPG 3 kg, yang dinikmati oleh tidak hanya kalangan masyakat miskin, seharusnya dialamatkan ke mereka yang memanfaatkan kebijakan subsidi pemerintah.    

Orang-orang Kaya yang Berwatak Miskin

“Orang-orang kaya yang mengaku hidupnya makin sulit”, demikian judul tulisan Rhenald Kasali di kolom Kompas tanggal 31 Agustus kemarin. Rhenald Kasali menulis pengalaman interaksinya dengan mereka yang secara ekonomi berada pada taraf menengah ke atas, justru mereka lah yang paling rajin menebar keluhan di media sosial.

Untuk menguatkan tulisannya, Rhenald Kasali secara serius melakukan riset untuk melihat korelasi mereka yang memiliki taraf hidup menengakh ke atas, tapi dalam keseharian mereka lah yang paling sering menulis status tentang kondisi ekonomi yang buruk, rupiah melemah dan sejumlah kalimat negatif lainnya.

Bahkan, Rhenald Kasali menemukan kasus, dimana mereka yang pengusaha property, saat rupiah dipukul dollar, mereka ramai-ramai melelang property mereka, rumah dan sejumlah apartemen. Tapi, jangan sangka mereka menjualnya karena lagi kesulitan, dan butuh uang.

Mereka justru melihat peluang dari terpuruknya rupiah. Mereka ingin meraup untung besar. Mereka punya keinginan untung besar. Tapi, keinginan untung besar seharusnya berkorelasi dengan upaya besar, bukan dengan omelan besar.

Energi Asia

Kisah Wewey yang paradoks di balik perjuangan mengatasi kehidupannya yang getir, lebih dari sekedar tambahan medali emas bagi Indonesia. Pelajaran penting dari Wewey seharusnya dijadikan hikmah tentang bagaimana seharusnya menyikapi persoalan hidup.     

Lebih dari itu, Indonesia telah berhasil membuktikan diri sebagai negara yang layak diperhitungkan di kawasan Asia. Kita tidak hanya mampu berdiri terhormat dengan negara semaju Cina, Jepang dan Korea, bahkan kita telah menjadi sumbu meledaknya “Energi Asia”

Dua Sisi Indonesia

Tapi, Energi Asia yang menyala di momen Asian Games ini ternyata belum juga mampu menghentikan omelan para politisi yang punya banyak stok energi nyinyir. Roy Suryo, petinggi Partai Demokrat, sejak awal sudah menebar aura pesimis, bahwa Indonesia akan kesulitan memenuhi target 10 besar.

Kini, giliran Indonesia memastikan diri berada di empat besar, ia malah menyebutnya sebagai faktor keberuntungan sebagai tuan rumah. Ia pun tak sungkan untuk menyebut bahwa Asian Games hanya jadi ladang pencintraan Jokowi.

Kini kita tahu bersama:                                                                             

Di saat ada orang yang bermimpi Indonesia jadi negara besar, sebaliknya, ada orang yang justru bermimpi Indonesia bakal bangkrut dan bubar.

Ada yang bergembira menyambut Asian Games 2018. Sebaliknya, ada yang berpikir itu hanya buang uang dan pencitraan.Mungkin ini hanya perspektif saja.Tapi, itu juga sudah memperjelas “siapa kita” dan hendak kemana bersama Indonesia…

Beri tanggapan