fbpx

WAPRES?, Jokowi Mau yang Berani Berantem

Gema – Jokowi belum mengumumkan siapa pasangannya untuk 2019 nanti. Saat ditanya, ia malah mengelak. “Nanti tanya”, sambil menunjuk Megawati. Sementara, menurut Ketua PPP, Romahurmuziy, kemungkinan pengumuman itu pada tanggal 9 Agustus ini.

Wacana Cawapres ini memang menjadi trending dalam pekan-pekan ini, terutama karena figure Capres masih mengerucut pada Jokowi dan Prabowo. Bahkan, ijtima ulama yang digagas kelompok PKS cs salah satu isinya merekomendasikan nama-nama Cawapres bagi Prabowo.

Galau Prabowo

Kelompok Prabowo punya deretan nama untuk didorong, misalnya Anies, Gatot Nurmantyo, UAS, dan yang fenomenal adalah AHY. Nama terakhir adalah tawaran ‘harga mati’ dari SBY dan Demokrat.

Kita bisa bayangkan bagaimana pusingnya seorang Prabowo menentukan pasangannya. Sosok Anies yang semula dianggap pasangan ideal, namun apa yang dilakukannya di Jakarta masih jauh dari apa yang telah ditorehkan oleh Ahok. Bahkan, para netizen kerap membandingkan prestasi Bu Risma di Surabaya, sebagai kota yang lebih layak didaulat sebagai Ibukota.

Dan Ustad Abdul Somad (UAS) terus dirayu untuk menerima tawaran itu, meski secara terbuka ia sudah menyampaikan penolakannya. UAS lebih memilih tetap menjadi pengkhotbah, meski isi ceramahnya kerap bersinggungan dengan politik.

Setelah menunaikan tugas selaku Panglima ABRI, Jenderal Gatot tetap belum mampu menaikkan elektabilitasnya. Namanya yang pernah dikaitkan dalam tulisan investigatif Allan Nairn, yang dirilis oleh tirto.id, disebut sebagai salah satu elit yang terlibat dalam rencana makar. Isu makar mewarnai akhir pengabdian Gatot yang juga dianggap berhenti sebelum waktunya.

Di tepi jalanan-jalanan utama, AHY suadah memasang baligho yang menggambarkan sosok muda nan enerjik. Tapi, semua orang tahu, AHY bukan kader. Elit Demokrat pasti terbelah kala harus membuka jalan bagi putra sang ketua. AHY belum cukup punya pengalaman untuk mengemban amanah sang ayah, alih-alih amanah bangsa dan negara.

Prabowo tentu galau, saat menyadari deretan sosok pendampingnya belum mumpuni untuk berhadapan dengan Jokowi.

Galau Prabowo makin menguat kala Desmond J Mahesa, Ketua DPP Gerindra mengeluarkan pernyataan, Prabowo masih ditimbang sebagai Capres satu-satunya. Prabowo bisa saja bekerja di balik layar dan mendorong Anies atau Gatot.

Jokowi tak menunggu

Bagaimana dengan Jokowi? Nama-nama calon pendamping Jokowi pasca JK, bukannya tak ramai dibicarakan. Sosok Mahfud MD dan TGB (Tuan Guru Bacan) Gubernur NTB, adalah dua nama teratas yang dianggap paling pas untuk mengimbangi lawan, yang dianggap suksek mengkanalisasi kelompok ‘islam keras’.

Mahfud MD punya reputasi tak mengecewakan kala memimpin Mahkamah Konstitusi. Ia juga dikenal sebagai perpaduan sosok ulama yang berlatar akademik. Tapi, Mahfud MD punya celah. Ia secara tegas menentang HTI (Hizbut Tarhrir Indonesia), dan menyetujui Undang-undang dan Perpu pemberantasan teroris. Sikap yang membuat kelompok lawan harus melupakan jasanya saat berada satu barisan mendukung Prabowo, 2014 lalu.

Dukungan TGB untuk dua Jokowi periode, seperti badai untuk kelompok Prabowo. Bukan hanya TGB sebagai orang yang juga pernah menjadi bagian dari tim pemenangan Prabowo pada Pilpres lalu, namun TGB terlanjur diidolakan sebagai sosok lawan alternatif bagi Jokowi.

Kita mendengar pula figure Cak Imin yang diusung ulama NU atau Romahurmuziy dari PPP. Kedua nama ini memang masuk ke dalam partai pengusung, namun tentu pertimbangan itu bukan menjadi faktor determinan untuk menentukan siapa pasangan terbaik Jokowi.

Jokowi pilih yang ‘berani berantem’

“Mbok sabar…”, kata Jokowi suatu waktu saat ditanya, siapa yang calon pendampingnya.

Apakah Jokowi peduli siapa calon pendampingnya? Sepertinya ini bukan pertanyaan yang penting. Sayangnya, para pewarta dan kalangan politisi telah terlanjur larut dalam ‘politik narsis’, mereka hanya sibuk menyebut nama-nama, dan seperti melupakan bagaimana seharusnya meramu isu politik yang kondusif.

Ini juga menunjukkan bagaimana kiprah partai politik masih jauh dari harapan sebagai katalisator. Parpol memilih menyodorkan nama-nama ketimbang mempertajam visi. Kita hampir tak mendengar ulasan tajam, tentang bagaimana pandangan sebuah partai politik untuk membawa Negara berkompetisi di era milineal kini.

Jokowi memang belum menyebut nama, bukan berarti ia tidak menyiapkan diri menghadapi Pilpres 2019. Deklarasi pendukung Teman Jokowi dan Baja adalah indikator nyata, perang Pilpres 2019 sudah ditabuh. Bahkan Jokowi meminta relawan untuk menyiapkan diri melawan segala bentuk fitnah, pernyataan yang lalu diframe oleh lawan politik sebagai pernyataan tak pantas.

Tapi, pernyataan ‘berani berantem’ yang dilempar Jokowi bukannya meninju angin. ‘Berani berantem’, bisa saja bermakna bahwa sosok yang diinginkan adalah ia yang siap bertarung, berani melawan fitnahan, berani menentang pembodohan, dan tentu saja berani berhadapan dengan Prabowo cs.

Beri tanggapan